<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-16339653</id><updated>2011-12-15T19:12:23.335+08:00</updated><title type='text'>Uneg-Uneg</title><subtitle type='html'>Namanya juga uneg-uneg. Ya.. tempat nulis segala macam uneg!!!</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://mahendrahariyanto.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/16339653/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mahendrahariyanto.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Mahendra_Hariyanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14146151298243190386</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/blogger/2929/1547/1600/Taiwan2.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>13</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-16339653.post-4537393549791293184</id><published>2011-02-09T20:31:00.000+08:00</published><updated>2011-02-09T20:34:50.802+08:00</updated><title type='text'>Mengelola Kelemahan</title><content type='html'>&lt;p&gt;Saya punya banyak kelemahan. Salah satunya : Bahasa inggris saya   kurang bagus… dulu… Sekarang sih mendingan, walaupun masih jauh dari  sempurna. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Yang  susah adalah pengucapannya. Maklum lidah  kita beda dengan lidah orang  bule.  Tambah lagi ejaan kita yang  bunyinya beda dengan ejaan bahasa  inggris. Perbedaan itu  sering  membuat lidah ini terselip mengucapkan kata bahasa inggris dengan ucapan  sesuai ejaan bahasa Indonesia.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saya kira ini bukan masalah saya sendiri. Banyak juga orang Indonesia lainnya yang mempunyai masalah yang sama.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Beberapa  tahun lalu, saya sempat tersenyum-senyum sendiri mendengar cerita  beberapa kasus serius  terjadi karena masalah pengucapan  bahasa inggris  yang salah ini, misalnya:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Seorang expatriate,   bisa jadi berkerut keningnya ketika   mendengar   bawahannya yang imut manis berucap sendu  di telepon&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;em&gt;“… I’m still waiting for your “f*cks” boss…”&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Padahal yang dimaksud si bawahan…&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;“… I’m still waiting for your  fax  boss…” &lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt; &lt;/em&gt;“Fax    (=facsimili) akan terdengar seperti f*cks  (=sebuah kata/kegiatan  yang  tabu) di telinga orang bule apabila kita membaca kata “FAX” dengan   menggunakan ejaan bahasa Indonesia (F+A = FA diakhiri dengan X jadinya   FAX diucapkan sperti FAKS terucap seperti f*cks).&lt;/p&gt;&lt;p&gt; Juga     ketika kata “cafe” mulai sering dipakai 1 – 2 dekade lalul di Jakarta   untuk menggantikan kata warung kopi atawa rumah makan. Cafe  masih   sering salah dilafalkan  dengan hanya satu suku kata.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; Mungkin kesalahan ini karena  mengacu pada pengucapan bahasa inggris lainnya seperti &lt;em&gt;life &lt;/em&gt;atau &lt;em&gt;knife&lt;/em&gt;  yang dilafalkan dengan satu suku kata. Berbeda dengan pengucapan bahasa  inggris lainnya,  dimana  huruf  “e” setelah konsonan diakhir kata  tidak dilafalkan, kata Cafe  diucapkan dengan 2 suku kata, dan suku kata  kedua “fe” juga dilafalkan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; Mengapa demikian? Karena mungkin kata ini diadopsi dari bahasa  Perancis yang melafalkannya dengan 2 suku kata.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Salah  pelafalan ini  banyak  membuat orang bule salah mengerti, ketika  kita  melafalkan kata  “cafe” seperti melafalkan kata  “cave”(=gua) .&lt;/p&gt;&lt;p&gt; Terbayang kan betapa takutnya orang bule ketika mendengar ajakan ramah kita yang  kira-kira terdengar seperti ini:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;“ let’s have some snakes in the cave” &lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;(mari kita makan ular di dalam gua..)&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Terlebih   lagi si bule pernah melihat penjahit di daerah tempat tinggalnya yang   memiliki spesialisasi melayanani pelanggan penghuni-penghuni gua yang   jahat.  Di depan toko si penjahit terdapat sepanduk besar bertuliskan :&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Terima  Bad Caver “&lt;/p&gt;&lt;p&gt; Padahal  maksud kita adalah&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;“let’s have some snacks in the cafe..” &lt;/em&gt;(mari  cari makanan kecil di kafe.)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;dan&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Terima Bed Cover”&lt;/p&gt;&lt;p&gt; Jadi   kesimpulanya : berbicara bahasa inggris yang baik dan benar sangat   penting untuk menghindari salah pengertian. Saya pernah jadi kelaparan   di malam hari karena salah pengertian.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; Begini ceritanya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; Kejadian nya  di Bangkok sektitar  tahun 2002.  Saat itu saya dikirim   mengikuti sebuah training di sana.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bagi   yang pernah jalan-jalan ke Bangkok pasti tahu kalau Babi adalah  makanan  yang popular di sana. Banyak restoran-restoran di sana yang  menjadikan  Babi sebagai mascot mereka atau sebagai sajian utama  restoran mereka.  Nah dengan demikian, saya yang tidak makan Babi mesti  hati-hati kalau  memilih makanan di sana.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Karena  tidak  banyak pilihan, dan juga karena kesulitan berkomunikasi untuk  bertanya  apakah makanan yang tertulis di dalamn menun  mengandung babi atau  tidak, saya jadi tidak berani makan sembarangan dan banyak-banyak.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kalau  bisa , pilih makanan vegetarian yang jelas-jelas tidak mengandung  daging sama sekali. Padahal aslinya sih  saya suka sekali makan daging.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; Karena   makannya sedikit dan pilih-pilih di siang hari, di malam hari saya  jadi  sering merasa lapar. Pada suatu malam , karena rasa lapar yang  mendera,  saya jadi susah tidur. Padahal esok paginya masih ada training  seharian yang perlu saya ikuti dengan konsentrasi penuh.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Malam  itu saya putuskan melawan rasa lapar dan tidak saya biarkan tidak bisa  tidur hanya karena perut kosong.  Maka,  dimalam yang sudah larut itu  kusingsikan selimut kulangkahkan kaki  keluar hotel berburu makanan  untuk mengisi perutku yang kosong itu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; Masalahnya, tengah  malam gitu kebanyakan restorant sudah pada tutup, tinggalah wareng serba  ada 24 jam yang tersisa. Yang ada di benakku saat  itu u ku adalah  mencari mi instant yang siap disantap ha nya dengan menuangkan air panas  ke dalam kemasan nya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Mulailah saya bergerilya  mengunjungi waserba 24 jam yang ada, dimulai dari yang  terdekat dengan  hotelku dulu. Dan seperti yang ku bilang sebelumnya,  karena orang  Thailand sangat menyukai sari rasa babi, dalam memilih mie  instant pun  aku sangat berhati-hati.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; Apalagi pada saat itu, sulit mendapatkan mi instant yang sudah ada label halalnya di Bangkok.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Mi   instant yang tidak ada keterangan nutrisi dalam bahasa inggris,   langsung tidak saya pilih. Walaupun kemasan depan bergambar seafood,   selama keterangan kandungan nutrisi tertulis dengan aksara Thailan dan   tidak saya mengerti tak berani saya mengkonsumsinya. Saya dengar di  Negara-negara yang banyak mengonsumsi  babi, kaldu “babi” sering  digunakan untuk penyedap rasa berbagai makanan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Mi instant  yang pertama yang saya lihat bergambar tomyam didepannya dan keterangan  kandungan makanan ditulis dalam  bahasa inggris disamping aksara  Thailand. Tertulis kandungan me instant itu adalah : &lt;em&gt;Wheat flour &lt;/em&gt;(Tepung Gandum), &lt;em&gt;Vegetable oil&lt;/em&gt; (Minyak sayuran),&lt;em&gt; salt&lt;/em&gt; (garam),  &lt;em&gt;sugar&lt;/em&gt; (gula), &lt;em&gt;chilli powder&lt;/em&gt; (serbuk cabai), &lt;em&gt;MSG, Garlic Powder&lt;/em&gt;  (Serbuk Bawang  Putih), Perasa tom Yam, dan bawang putih. Sekilas  terlihat Mie instant  ini aman untuk saya konsumsi karena tidak tertulis  ada kandungan babi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tapi, tunggu dulu, ketika saya  cermati lagi,ternyata  ada kalimat lain yang tertulis di sisi lain  kemasan mi instant itu yang kalau saya artikan berisi peringatan “ada  babi di dalam”.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Wah untung saja belum saya konsumsi” pikirku&lt;/p&gt;&lt;p&gt; Dan  mulailah aku mencari mi instant lainnya dengan rasa dan merek yang  berbeda-beda   ,  kari ayam, seafood , rasa sapi. Tidak hanya di satu  toko tapi di  toko-toko lainnya. Anehnya di setiap kemasan mi instant  yang kulihat  itu, selalu ada tulisan yang kalau saya artikan berisi  peringatan “ada babi di dalam”.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ck..ck.. ck.. saya hanya bisa geleng-geleng kepala. Ternyata babi sangat popular di Negara Thailand.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Apapun rasa mi-instantnya , ada babi di dalamnya. Begitu kira-kira tag line yang menggambarkan situasi pada saat itu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Setelah  lelah mencari ke sana ke mari akhirnya saya menyerah. Saya pulang ke  hotel dengan tangan dan   perut hampa. Sesampainya di hotel, tidak  banyak yang bisa saya lakukan. Mau   tidur tidak bisa. Nonton TV juga  tidak nyaman karena perut kosong. Akhirnya saya luntang-lantung nggak  jeals di dalam kamar Mau baca-baca juga, majalah yang ada sudah habis  saya baca.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kalau sudah begini, mulailah saya membaca  tulisan apapun yang bisa dibaca. Dari brosur hotel, peta kota, bahkan  daftar inventori barang-barang yang ada di kamar hotel pun saya cermati .  Daftar inventory itu tertulis balam bahasa Inggris, ada piring, gelas,  pembuka botol, pemanas air, pisau, sendok, babi… .&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Babi?  Nggak salah tuh? Ada babi di dalam kamar?  Apalah maksudnya daging babi  di dalam kulkas? Setelah kuperiksa, di dalam kulkas hanya tersedia  minuman, tidak ada daging babi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Hmm… pasti ada yang salah..&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Untuk memastikan, kubuka kembali kamus sakuku. Siapa tahu kata Babi dalam bahasa inggris juga mempunyai makna ganda.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Yaah… akhirnya ketahuan juga di mana salahnya. Salahnya ternyada ada di otak saya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Mungkin  karena saya pernah tinggal di bumi parahyaangan selama kurang lebih 5  tahun. Di sana saya biasa mendengar huruf “F” dilafalkan seperti huruf  “P”. Misalnya “Film” akan terdengar seperti “Pilem”, “Fondasi”akan  terdengar seperti “Pondasi” dan seterusnya. Makanya ketika saya membaca  tulisan di kemasan mi instant   “Fork Inside”  (ada garpu di dalam),  saya membacanya sebaagai “Pork Inside” (ada babi didalam).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Begitulah  teman, hanya karena terbiasa melafalkan huruf “F” sebagai huruf “P”,  saya jadi tidak bisa tidur dan kelaparan tengah malam di negeri orang&lt;/p&gt;&lt;p&gt;**&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ketika saya memutuskan untuk “&lt;em&gt;Go International&lt;/em&gt;”  (alias jadi TKI) bekerja di negeri orang, Saya paham betul bahwa  kemampuan berkomunikasi dalam bahasa Inggris , terutama dalam hal  pengucapan,  merupakan  salah satu kelemahan saya. Pemahaman atas  kelemahan ini, tidak hanya mendorong  saya  untuk terus berusaha  menguranginya, di sisi lain, juga mendorong saya  untuk mengimbanginya  dengan memperkuat kelebihan yang saya miliki.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dalam   menjalani pekerjaan saya, tidak jarang saya harus berdiri di depan   orang banyak, memberikan training atau mempresentasikan hasil pekerjaan   saya dalam bahasa Inggris di hadapan orang-orang yang  bermimpipun  pakai bahasa inggris. Menghadapi situasi ini, awalnya deg-degan  juga,terlebih-lebih karena saya sadar bahwa berkomunikasi dalam bahasa  Inggris adalah salah satu kelemahan saya. Namun lama-lama setelah saya  terbiasa mengelola kelemahan saya tersebut, ras deg-degan itu semakin  berkurang. Bahkan tidak jarang saya membuka presentasi atau sesi  training saya dengan pengakuan akan kelemahan saya itu yang saya kemas  sebagai sebuah  “Joke”/  gurauan ringan  :&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;“I have no  problem at all speaking in English.  There is only one little problem,  which is : usually people don’t understand what I’m talking about. But  it is not my problem right?“&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;(Saya nggak ada masalah ngomong  Inggris. Masalahnya cuma,  biasanya orang-orang banyak yang nggak ngerti  apa yang saya omongin. Tapi itu bukan masalah saya bukan?)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Setelah   mengakui kelemahan saya, saya ajak peserta training untuk membantu  saya  mengatasi kelemahan saya dengan mendorong mereka untuk tidak  ragu-ragu  bertanya:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;“So… if you have any doubt or questions, please don’t hesitate to interrupt me anytime  and raise your question”&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;(Jadi,   kalau ada hal yang meragukan atau pertanyaan, jangan ragu untuk   memotong pembicaraan saya dan ajukan pertanyaan anda kapan saja)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Terakhir,   sebagai timbal balik atas partisipasi peserta training dalam memahami   dan membantu saya mengatasi kelemahan saya, saya biasanya tak segan –   segan menyediakan waktu lebih banyak bekerja lebih keras untuk   menyiapkan training material yang lebih terperinci dan semenarik   mungkin.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Strategy  ini kelihatannya berhasil. &lt;em&gt;Feedback&lt;/em&gt; yang saya terima dari peserta  training mengenai qualitas training yang saya sampaikan cukup positif.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dengan  demikian kekurangan saya dalam  hal kekurangkefasihan pengucapan  kata-kata berbahasa Inggris, tertutupi oleh keterbukaan saya untuk  melayani berbagai pertanyaan dan   juga training material yang saya  telah saya siapkan sebaik mungkin.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jadi teman, adalah penting untuk mengenal, menerima dan mengakui kelemahan yang kita miliki.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Di   saat kita mampu mengenal, menerima dan mengakui kelemahan (weakness)   kita, di saat itu pula kita akan terpacu untuk senantiasa  menggali  potensi dan mengasah kelebihan   kita (strength)  untuk mengimbangi  kelemahan yang kita   itu. Dengan demikian,  ancaman (threat) yang  mungkin ditimbulkan oleh kelemahan kita, akan dapat kita minimalisir.   Lebih jauh lagi, semakin tekun kita menggali dan mengasah kelebihan yang  kita miliki, semakin terbuka pula peluang-peluang (opportunity) baru  yang mungkin kita raih. Dalam ilmu manajemen , kerangka berpikir seperti  ini dikemas dalam sebuah teory yang dikenal luas sebagai  teori  analysis &lt;em&gt;SWOT : Strength, Weakness, Opportunity and Threat.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Singapura, 09 Februari 2011&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Mahendra Hariyanto&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/16339653-4537393549791293184?l=mahendrahariyanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mahendrahariyanto.blogspot.com/feeds/4537393549791293184/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=16339653&amp;postID=4537393549791293184' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/16339653/posts/default/4537393549791293184'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/16339653/posts/default/4537393549791293184'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mahendrahariyanto.blogspot.com/2011/02/mengelola-kelemahan.html' title='Mengelola Kelemahan'/><author><name>Mahendra_Hariyanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14146151298243190386</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/blogger/2929/1547/1600/Taiwan2.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-16339653.post-6367757480521632125</id><published>2010-12-03T05:57:00.000+08:00</published><updated>2010-12-03T05:58:26.261+08:00</updated><title type='text'>Piano</title><content type='html'>&lt;p&gt;Piano itu sudah tua umurnya. Mungkin sudah lebih dari seratus tahun. Warisan dari kakekku dari pihak ibu. Sewaktu ku kecil piano itu sudah ada.  Setelah ku punya anak kecil, piano itu pun masih ada.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Sampai saat ini piano itu masih kokoh dan bagus. Karena memang dia dirawat dan beberapa kali diperbaiki.  Dulu, aslinya tuts-tuts terbuat dari gading gajah. Namun banyak yang sudah rusak termakan usia. Gading itu pun akhirnya diganti dengan kayu biasa.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Piano itu beberapa kali rusak, tidak bisa dimainkan. Beberapa kali pula piano itu diperbaiki agar bisa bersuara kembali.  Sayangnya, aku bukanlah pemain piano yang pandai. Lagu-lagu yang kutahu itu-itu saja. Itupun  banyak salahnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Piano.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Depannya P belakang nya o, ditengah-tengah ada huruf a.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Piano terdiri dua suku kata Pia dan no. Pia artinya makanan kecil (seperti bak – Pia , sum-Pia, lum-Pia) dan no artinya bukan. Jadi Piano berarti “bukan makanan kecil”. Begitulah, belajar bermain Piano memang tidak semudah menyantap makanan kecil.  Mungkin ini adalah salah satu alasan mengapa aku tidak pernah pandai bermain Piano.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Bersyukurlah kalau anda tidak percaya dengan apa yang saya tulis di alinea di atas. Sebaliknya , kalau anda percaya, tidak ada salahnya anda ke rumah sakit melakukan pemeriksaan kesehatan jiwa. Just in case.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; **&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Piano itu adalah kesayangan almarhum Papa.  Menjadi tempat menenangkan diri dari beratnya beban hidup yang papa hadapi. Di saat bermain piano, pikiran papa terpusat pada tuts-tuts piano agar tercipta harmoni yang indah terdengar di telinga. Di saat itulah beban berat yang membebani pikiran papa terasa menjadi lebih ringan.  Begitu pula bagi yang mendengarnya. Indahnya harmoni suara piano membuat  hati menjadi lebih damai.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Pelajaran pertama dari Piano itu adalah seni dan keindahan membuat batin kita menjadi lebih damai.  Jadi seni adalah komponen penting dalam kehidupan kita.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Saya jadai terbayang-bayang bahwa  seni bisa  dijadikan sebuah solusi yang effektif meredam tawuran pelajar dan keganasan preman di Jakarta. Tawuran antar pelajar tidak hanya bisa dikurangi dengan pengawasan yang ketat, tetapi juga dengan memberikan kesempatan yang  banyak bagi pelajar untuk mendalami kesenian yang diminatinya. Dikala mereka menemukan indahnya seni yang tengah mereka dalami, disaat itu pula kedamaian hati akan mereka temukan.  Di saat hati damai, disaat  itu pula keinginan untuk tawuran jadi berkurang.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Seperti pelajar, keganasan preman-preman Jakarta pun  bisa dikurangi dengan seni. PEMDA Jakarta mungkin bisa mulai mencanangkan program pengenalan dan pelestarian seni kepada preman-preman Jakarta. Dimulai dari yang sederhana saja, yang gak usah mahal-mahal. Dimulai dari  sebuah seni yang beberapa tokoh  nasional dan Jakarta telah menjadi ahlinya, yaitu : Seni memelihara KUMIS.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Terbayang kalau setiap pagi, sebelum berangkat kerja ,preman-preman itu berkaca dan mengagumi indahnya kumis mereka, hati mereka mungkin akan menjadi lebih damai. Mood mereka akan menjadi lebih baik. Dan  Dengan mood yang baik, mereka tentunya akan bertingkah lebih halus dan sopan. Dus, terror terhadap warga Jakarta akan berkurang. Masuk akal bukan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; “Maaf Pak, kalau mau lewat jalan ini, sudilah kiranya bapak menyumbangkan sedikit uang pada saya  ,lima ratus rupiah saja….”&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Begitulah kira-kira kalimat santun  yang nantinya akan terucap oleh preman berkumis indah jelita.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Kembali lagi ke Piano.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Piano dibuat dengan banyak tuts. Tuts ada yang warnanya putih, ada yang warnanya hitam. Ada yang nadanya rendah ada yang nadanya tinggi. Piano terdiri dari nada-nada yang beragam. Sengaja dibuat begitu. Dengan nada-nada yang berbeda dan beragam, piano akan mampu menimbulkan bunyi indah yang beragam pula.  Tak terbayang jika piano hanya terdiri dari 1 nada, betapa membosankan suaranya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Jadi Piano sengaja dibuat dengan  tuts dan nada yang berbeda-beda agar dia dapat mengeluarkan suara dan harmoni yang indah di dengar.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Pelajaran kedua dari Piano ini adalah: keberagaman adalah awal dari keindahan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Serupa seperti piano, kiranya dunia ini sengaja diciptakan dengan penuh keragaman agar dapat tercipta harmoni kehidupan yang damai dan indah. Makanya saya heran, ketika ada  sekelompok golongan tertentu  mengatasnamakan Tuhan,   getol menentang keberagaman atawa  pluralisme. Padahal sang pencipta , Tuhan-lah yang menciptakan keberagaman itu.  Paradoks.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Jika tidak dimainkan,Piano tidak pula mengeluarkan suara yang indah. Ia baru sebatas berpotensi mengeluarkan suara yang Indah. Diperlukan seorang pianis yang handal yang tahu  nada  apa saja, kapan dan dalam tempo yang bagaimana mereka harus ditekan agar tercipta harmoni yang Indah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Nada yang salah ditekan pada saat yang salah menimbukan suara yang tidak enak di didengar.  Nada yang benar pun jika ditekan pada saat yang salah dia akan mengeluarkan suara yang sumbang.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Jadi, pelajaran ketiga dari piano ini adalah; dari keberagaman akan terwujud keindahan di saat keberagaman itu dapat dikelola dengan baik.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Jika piano dengan kebragaman nadanya dianalogikan sebagai bangsa kita yang beragam pula, maka sang pianis dapat kita analogikan sebagai pemimpin-pemimpin bangsa kita.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Hanya saja, para  pianis bangsa ini belum bisa dikatakan sebagai pianis yang handal. Mereka masih sering memainkan nada yang salah di saat yang salah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Misalnya, kelakuan   wakil rakyat   yang cuek bebek melanglang buana menghabiskan   uang rakyat, di saat banyak yang berkeberatan, di saat banyak rakyat yang mengungsi akibat bencana alam,     adalah bagaikan pianis tuli yang  tidak peduli nada yang salah telah ditekan pada saat yang salah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Ada juga sih pemimpin yang menekan nada yang benar disaat yang tepat. Keputusan SBY untuk berkantor di Yogyakarta di saat gunung merapi meletus adalah nada yang benar yang dimainkan di saat yang tepat.  Nada yang terdengar menyejukkan di hati korban letusan gunung merapi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Nada yang benar pun jika dimainkan dalam tempo dan waktu yang salah, juga akan menimbulkan suara sumbang dikalangan rakyat. Komentar SBY  mengenai demokrasi dan monarki di Jogja mungkin tepat untuk mengambarkan situasi ini. Pada prinsipnya jika kita ingin menjadi Negara demokrasi yang konsisten, adalah hal yang benar untuk menerapkan system demokrasi di seluruh daerah di Indonesia. Kepala daerah selayaknya dipilih secara demokrasi pula.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Namun dalam konteks Jogjakarta , di mana Sang Sultan masih sangat dihormati rakyatnya , yang mana leluhurnya sudah beratus-ratus tahun memimpin daerah ini, agaknya   saat ini belumlah waktu yang tepat  untuk merubah  system pemerintahan daerah ini. Jadi nada yang benarpun selayaknya tidak dimainkan sebelum waktunya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Yang bisa kita lakukan sebagai rakyat biasa, yang mendengar  sumbangnya nada-nada yang dimainkan pemimpin kita, yang mungkin terganggu atau bahkan menderita karenanya, adalah dengan mengawasi , memberikan masukan dan kritikan yang membangun agar nada-nada sumbang itu tidak terlalu sering terdengar.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Singapura 3 Desember 2010&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Mahendra Hariyanto&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/16339653-6367757480521632125?l=mahendrahariyanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mahendrahariyanto.blogspot.com/feeds/6367757480521632125/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=16339653&amp;postID=6367757480521632125' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/16339653/posts/default/6367757480521632125'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/16339653/posts/default/6367757480521632125'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mahendrahariyanto.blogspot.com/2010/12/piano.html' title='Piano'/><author><name>Mahendra_Hariyanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14146151298243190386</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/blogger/2929/1547/1600/Taiwan2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-16339653.post-76928451286681155</id><published>2010-10-31T10:40:00.000+08:00</published><updated>2010-10-31T10:42:38.213+08:00</updated><title type='text'>Selamat Jalan</title><content type='html'>Rasa sesal itu masih tersisa.&lt;br /&gt;Tidak seharusnya..&lt;br /&gt;tapi begitulah,&lt;br /&gt;Sesal itu menggantung enggan pergi dari dalam benakku.&lt;br /&gt;Andai saja kutahu..&lt;br /&gt;Andai saja ku lebih peka..&lt;br /&gt;Andai saja ku mau membaca  tanda-tanda .&lt;br /&gt;Tentu akan berbeda jadinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ku tahu itu.&lt;br /&gt;Dikala ajal tiba,&lt;br /&gt;tak satupun bisa menunda... &lt;br /&gt;bukan saat ajal yang ingin kutunda, &lt;br /&gt;tapi saat menemani papa ketika meregang ajal adalah saat-saat terlewatkan di mana kuingin bersamanya.&lt;br /&gt;Memegang erat tangannya...&lt;br /&gt;Memohon maaf atas kesalahan di saat lagi dia ada&lt;br /&gt;Menuntunnya, mengucapkan syahadat , di saat napas terakhir terhembus dari paru-parunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdullilah, itulah yang kudengar dari mama.&lt;br /&gt;Syahadat terucap lancar dari lidah papa&lt;br /&gt;di saat napas terakhir terhembus meninggalkan tubuh papa.&lt;br /&gt;Suatu tanda khuznul hotimah&lt;br /&gt;Mudah-mudahan demikanlah adanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Firasat itus seseungguhnya ada.&lt;br /&gt;Hanya saja ku tidak merasakannya.&lt;br /&gt;Ntah kenapa, beberapa hari sebelum papa pergi&lt;br /&gt;ada dorongan  kuat untuk pulang&lt;br /&gt;Serta merta kupaksakan kuambil cuti yang tidak pernah terencana sebelumnya.&lt;br /&gt;Kuingin pulang, menengok papa yang waktu itu masih terbilang sehat.&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kutiba,&lt;br /&gt;Terjadi begitu saja..&lt;br /&gt;Belum lagi kusempat menengoknya&lt;br /&gt;Kondisi papa menjadi buruk.&lt;br /&gt;Batuk tiada henti.&lt;br /&gt;Napas terengah-engah.&lt;br /&gt;Terbaring lemas di rumah sakit.&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Empat hari ku ikut menemaninya.&lt;br /&gt;Di hari ke empat kondisi papa membaik&lt;br /&gt;Makan dan minumi kembali normal&lt;br /&gt;Batuk jauh berkurang,&lt;br /&gt;Dahak kuning mengental terbuang sudah.&lt;br /&gt;Di hari   itu kumohon ijin  pada Papa.&lt;br /&gt;Untuk tidak datang lagi hari selanjutnya.&lt;br /&gt;Kuharus kembali mencari nafkah di negeri orang.&lt;br /&gt;Papa tersenyum dan menganguk ikhlas melepasku pergi.&lt;br /&gt;Senyum ikhlas yang belakangan kutahu menjadi senyuman terakhir  kulihat dikala papa masih hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru pagi itu kukembali ke negeri singa&lt;br /&gt;Di kala senja   harus kutinggalkan kembali negeri itu&lt;br /&gt;Pulang...&lt;br /&gt;Mendapati Papa telah pergi..&lt;br /&gt;Terjadi begitu saja.&lt;br /&gt;**&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir tengah malam kutiba di rumah.&lt;br /&gt;Papa terbujur di tengah ruangan,&lt;br /&gt;Diam tiada napas.&lt;br /&gt;Kuberungut –sungut menghampirinya.&lt;br /&gt;Entah kenapa.&lt;br /&gt;Ketika kutatap wajah papa yang terbujur kaku&lt;br /&gt;Rasa sedih itu hilang sudah&lt;br /&gt;Kulihat papa telah pergi dengan damai.&lt;br /&gt;Senyumnya terbersit dari wajahnya yang diam kaku.&lt;br /&gt;Senyum yang seolah mengingatkanku&lt;br /&gt;Ada hidup setelah mati.&lt;br /&gt;**&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat jalan papa.&lt;br /&gt;Terimakasih telah menjadi pahlawan bagi kami.&lt;br /&gt;Berkorban dan berjuang tiada henti &lt;br /&gt;Sampai ajal tak mengijinkammu lagi.&lt;br /&gt;Kini tugasmu didunia ini telah selesai.&lt;br /&gt;Beristirahatlah dengan tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singapura 31 Oktober 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/16339653-76928451286681155?l=mahendrahariyanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mahendrahariyanto.blogspot.com/feeds/76928451286681155/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=16339653&amp;postID=76928451286681155' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/16339653/posts/default/76928451286681155'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/16339653/posts/default/76928451286681155'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mahendrahariyanto.blogspot.com/2010/10/selamat-jalan.html' title='Selamat Jalan'/><author><name>Mahendra_Hariyanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14146151298243190386</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/blogger/2929/1547/1600/Taiwan2.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-16339653.post-5317815312071018972</id><published>2010-09-27T20:31:00.000+08:00</published><updated>2010-09-27T20:34:40.927+08:00</updated><title type='text'>Kehilangan Jabatan Karena Marah</title><content type='html'>Marah tentu ada manfaatnya. Kalau tidak, buat apa tuhan memberikannya pada kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marah adalah salah satu alat yang diberikan pada kita untuk mempertahankan eksitensi kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marah bagaikan api… panas dan membakar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Api yang besar tak terkendali menjadi musuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Api yang besar kecilnya bisa kita atur sesuai kebutuhan menjadi sahabat .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti api, marah bisa memberi manfaat, atau mudarat bergantung pada kemampuan kita mengendalikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marahnya Bung Tomo pada 10 November 1945, mampu menggerakan ribuan pemuda mempertahankan kemerdekaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marahnya Mahatma Gandhi ketika diushir keluar dari gerbong kerata kelas satu yang telah dibelinya, semata-mata hanya karena kulitnya yang tidak putih, membuatnya tergerak memimpin dan mempersatukan bangsa India untuk meraih kemerdekaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marahnya perlajar dan pemuda Indonesia di tahun 1966 dan 1998 , mampu meruntuhkan tirani pemerintahan orde lama dan orde baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marah bisa diwujudkan dalam berbagai rupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hardikan yang keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hinaan yang lantang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukulan yang melumpuhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau , marah bisa pula diwujudkan dengan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diam seribu basa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata-kata bermakna dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lapar dan dahaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahatma Gandhi mewujudkan marahnya dengan cara-cara yang terakhir. Tidak dengan menghunuskan pedang, tidak dengan dengan kekerasan, tidak dengan kata-kata berapi-api penuh kemarahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marahnya Mahatma Gandhi diwujudkannya dengan menggerakkan rakyat India untuk menghilangkan ketergantunganny pada Kerajaan Inggris ,   pihak penjajag yang menjadi sasaran kemarahannya (&lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Swadeshi_movement"&gt;Swadeshi Movement&lt;/a&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di satu sisi, gerakan Swadeshi ini  membuat pengikutnya menjadi ”lapar dan dahaga”. Supply barang dan jasa murah yang diproduksi oleh industri kerajaan Inggris tidak boleh dikonsumsi lagi. Di sisi lain, gerakan ini menumbuhkan kemandirian bangsa India. Kemandirian, yang pada akhirnya membuat bangsa Inggris terusir dari tanah India.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, marah tidak harus selalu diwujudkan dengan kekerasan. Sejarah telah membuktikan “marah yang damai” seperti yang diperlihatkan Mahatma Gandhi, telah membuat kerajaan Inggris bertekuk lutut dan terusir dari tanah India.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau anda merasa menjadi orang biasa-biasa saja, bukan orang yang terkenal, bukan orang penting, hanya menjadi orang kebanyakan, anda tak perlu berkecil hati. Sebaliknya, ditakdirkaun untuk menjadi orang biasa , orang kebannyakan adalah suatu nikmat luar biasa yang patut disyukuri setelus hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nikmat indahnya menjadi orang kebanyakan adalah: tak ada beban bagi kita untuk jujur menjadi diri kita sendiri secara apa adanya. Ketika sedih, kita bisa menangis dengan jujur sejujurnya ,ketika kita bahagia, kita bisa tertawa lepas apa adanya, dan ketika kita marah, kita bisa marah tanpa perlu bersandiwar. Tak ada yang peduli, dan mempermasalahkan kejujuran tangisan, tawa dan kemarahan kita. Kalaupun ada yang mempermasalahkan , tidak banyak jumlahnya. Jumlah yang masih terasa ringan bagi kita untuk menghadapinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, bila anda “ditakdirkan” menjadi orang luar biasa, orang terkenal, orang-orang besar; tangis, tawa dan marah anda harus dapat dikendalikan sedemikan rupa agar tidak merugikan diri anda sendiri ataupun orang lain. Bukan tidak mungkin anda harus bersandiwara agar tawa, tangis dan kemarahan anda tidak dipermasalahkan oleh khalayak ramai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jendral Patton adalah Jendral brilian pasukan sekutu di masa perang dunia ke 2. Sang Jendral adalah komandan pasukan ke tujuh (seventh army), pasukan Amerika terbesar yang bertugas di daratan Eropa. Jenderal Patton dikenal sebagai jenderal betemperamental tinggi., emosional, terlihat gampang marah. Temperamen nya yang tinggi , sifatnya yang pemarah menyikapi prajuritnya yang dianggapnya tidak becus terebukti telah mampu secara effektif meningkatkan kinerja pasukannya di medan pertempuran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian, karena temperamen yang tinggi pulalah &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/George_S._Patton" &gt; Jenderal George Smith Patton, Jr&lt;/a&gt;  kehilangan jabatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Jenderal kehilangan jabatannya ketika dia tak mampu menahan emosinya menyaksikan seorang prajurit yang gemetar , menangis tersedu-sedu, mundur dari medan pertempuran dan meminta perawatan di rumah sakit di garis belakang. Padahal sang prajurit terlihat sama-sekali tak terluka. Di saat yang sama, rumah sakit yang dituju sedang kewalahan menerima banyaknya pasien korban pertempuran yang terluka berat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Jenderal menjadi marah besar. “Pengecut!!!” hardik sang Jenderal. Di tamparnya prajurit itu, diusir sang prajurit dari rumah sakit dan diperintahkan kembali ke medan pertempuran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekilas, terlihat marahnya sang Jenderal dapat kita pahami. Apa jadinyanya apabila semua tentara yang sehat wa’alfiat , tidak terluka, meninggalkan medan pertempuran tanpa alas an yang jelas?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun kemarahan sang Jenderal terjadi di tempat dan waktu yang salah. Kejadian itu disaksikan seorang wartawan perang yang tengah meliput perang dunia ke 2 di daratan Eropa. Sang Wartawan  kemudian membuat reportase mengenai pemukulan semena-mena seorang prajurit yang dilakukan oleh Jenderalnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih parah lagi, belakangan di ketahui si prajurit yang di tampar sang Jenderal ternyata sedang menderita malaria yang membuatnya memang harus dirawat di rumah sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selang tak berapa lama setelah kejadian itu, sang jenderal akhirnya di copot dari jabatannya sebagai panglima pasukan terbesar Amerika di daratan Eropa. Publik Amerika tidak bisa menerima putra-putranya yang mempertaruhkan nyawanya di medan perang diperlakukan tidak dengan layak oleh sang panglima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelajaran yang dapat diambil dari cerita ini adalah: kalau anda jadi orang besar, public figure, marah perlu dikendalikan. Marah yang tak terkendali di depan publik bisa merugikan diri anda sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau Amerika punya Jenderal Patton, kita punya Jenderal SBY. Kita sering menyaksikan Jenderal SBY sering terlihat tidak ragu-ragu marah, menegur, meghardik, siapapun itu yang mengganggunya ketka dia sedang atau akan berbicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika berpidato, dia tak ragu memperlihatkan rasa marah ,menghardik dengan keras, apabila ada yang tertidur di saat mendengarkan pidatonya yang mungkin memang membosankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lain waktu, dia juga tak ragu-ragu &lt;a href="http://www.youtube.com/watch?v=N1tYZFbe6xc"&gt;menghardik menteri bawahannya di depan umum&lt;/a&gt;   ketika didapati sedang berbicara sendiri di saat dia hendak menyampaikan pengumuman penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang terakhir, yang terjadi baru-baru ini Pak SBY marah besar ketika terjadi gangguan teknis di saat sedang mengadakan acara telekonfersi dengan kepala polisi di Jawa tengah. Tidak tanggung-tanggung, dua direktur perusahaan telekomunikasi di hardiknya, dipermalukan di depan umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah memang perlu Pak SBY mengumbar marahnya dengan hardikan yang keras, mempermalukan , merendahkan pejabat-pejabat tinggi yang dimarahinya di muka umum untuk hal-hal tidak prinsipil sperti di atas?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita mungkin punya pendapat yang berbeda.Mungkin banyak dari Anda mendukung sikap marah Presiden pada kejadian di atas. Di sisi lain mungkin juga tidak sedikit dari Anda yang berpendapat sebaliknya, sama seperti saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya tidak perlu Pak SBY yang mengumbar kemarahannya untuk hal-hal yang tidak prinsipil. Kemarahan seperti di atas selayaknya dilakukan di belakang layar, pejabat yang dianngap lalai bisa diberi teguran di belakang layar tanpa harus mempermalukannya di dedapn umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marahnya Pak SBY yang meledak-ledak selayaknya bisa dikemukakan ke khalayak ramai untuk hal-hal yang lebih besar, untuk kasus pelanggaran kedaulatan NKRI misalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa waktu lalu Negara tetangga menangkap petugas DKP di perairan Indonesia ketika mereka sedang bertugas menjaga kedaulatan NKRI. Entah kenapa, hardikan Pak SBY yang biasanya terdengar keras ketika menegur seseorang yang sedang tertidur ketika mendengar pidatonya, tidak terdengar untuk kasus yang satu ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ajaran Jawa, marah kepada bawahan pun ada aturannya: senyum bupati, tegur man tri, dan depak kuli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya kira-kira begini: kalau yang dimarahi memiliki tingkat kedudukan tin gkat intelektual yang tinggi (dianalogikan dengan kedudukan “bupati”), teguran dan kemarahan tidak perlu dilakukan dengan membentak-bentak dan menghardik . Cukup dengan senyuman penuh arti, sang bupati, akan mengerti kalau dirinya sedang dimarahi. Sedangkan untuk pejabat level menengah (dianalogikan dengan jabatan “mantri”), bisa dilakukan dengan teguran. Selanjutnya untuk menegur bawahan tingkat kedudukan dan intelektual yang rendah (dianalogikan dengan level kuli), teguran acap kali perlu diberikan dengan tegas dan keras agar dapat dimengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, marahpun perlu dikendalikan sesuai dengan konteks, ruang dan waktu. Tidak elok rasanya , apabila seorang menteri atau seorang direktur BUMN dimarahi di depan umum seperti layaknya memarahi anak-anak sekolah dasar yang lupa mengerjakan PR-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bertanya-tanya, apa yang sebeneranya melatarbelakangi sikap Pak SBY yang tidak segan-segan mengumbar marahnya di depan umum untuk hal-hal yang terlihat kecil .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah semata-mata karena tekanan pekerjaan yang besar, sehingga di waktu-waktu tertentu Pak SBY tak mampu lagi menahan emosinya menganggapi hal-hal yang terlihat kecil sekalipun?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah karena Pak SBY sengaja ingin menunjukkan kekuasaannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau: Apakah Pak SBY adalah orang yang selalu mengerjakan segala sesauatunya dengan sempurna, sehingga dia juga menuntut kesempurnaan dari bawahannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau poin terakhir yang benar, agaknya ada tujuan mulia yang hendak ingin dicapai Pak SBY dengan sikap marahnya selama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, perlu juga dipahami bahwa pada kenyataannya tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Tidak juga Pak SBY.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah baru-baru ini kita, rakyant Indonesia dipertontonkan dengan kejadian yang cukup memalukan dimana Jaksa Agung, yang seharusnya menjadi ujung tombak penegakan hukum di Indonesia, ternyata, tidak diangkat sesuai dengan hukum yang berlaku di Indonesia. Kejadian yang cukup memalukan bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadian bisa jadi disebabkan oleh kurang cermatnya, ketidak sempurnaan team yang dipimpin langsung oleh Pak SBY dalam memperhatikan hal-hal penting yang bedampak besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, apakah kita , rakyat Indonesia, yang memilih dan mengangkatnya sebagai Presiden, yang ikut “dipermalukan” oleh kejadian ini, pantas “menghardik” Pak SBY, seperti halnya Pak SBY menghardik menteri ataupu direktur BUMN yang dianggapnya tidak becus bekerja?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm… rasanya tidak perlu. Kita seharusnya bisa berikap lebih baik daripada sekedar berteriak-terak dan menghardik. Bagaimanapun juga Pak SBY Presiden kita . Mengkritisi Presiden selayaknya dilakukan dengan santun. Misalnya melalui tulisan-tulisan tajam, berbobot dan membangun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan selanjutnya. Apakah Jenderal SBY akan bernasib sama sepeti Jenderal Patton yang kehilangan jabatan hanya karena marah-marah pada tempat dan waktu yang salah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wah, saya tidak mampu menjawab pertanyaan ini. Saya bukan peramal dan juga bukan orang yang serba tahu. Saya hanyalah orang biasanya yang penuh dengan ketidaksempurnaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyadari sebagai orang yang tidak sempurna, saya pun sadar tulisan ini juga jauh dari sempurna. Dengan demikian, di akhir tulisan ini , ijinkan saya untuk menghaturkan maaf yang sebesar-besarnya, jika ada pihak-pihak yang tidak berkenan dengan tulisan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singapura, 27 September 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahendra Hariyanto&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/16339653-5317815312071018972?l=mahendrahariyanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mahendrahariyanto.blogspot.com/feeds/5317815312071018972/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=16339653&amp;postID=5317815312071018972' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/16339653/posts/default/5317815312071018972'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/16339653/posts/default/5317815312071018972'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mahendrahariyanto.blogspot.com/2010/09/kehilangan-jabatan-karena-marah.html' title='Kehilangan Jabatan Karena Marah'/><author><name>Mahendra_Hariyanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14146151298243190386</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/blogger/2929/1547/1600/Taiwan2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-16339653.post-115701965976469553</id><published>2006-08-31T18:02:00.000+08:00</published><updated>2006-08-31T18:24:03.863+08:00</updated><title type='text'>Bangga Menjadi Orang Indonesia</title><content type='html'>Tulisan di bawah ini pernah saya kirimkan ke rubrik KOKI Kompas, dan dimuat pada tanggal 25 Agustus 2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;B&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;angga Menjadi Orang Indonesia&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Anda orang Indonesia?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Masih tinggal di Indonesia?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Di Jakarta?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ke kantor naik bis- umpel-umpelan? &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Lalu lintas macet?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Pernah Naik kereta super ekonomi ke Yogya or Surabaya ? &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Pernah kebajiran?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Pernah dipalakin di bus sama gerombolan preman?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau semua jawaban di atas = "Ya", maka saya hanya Cuma bisa berkomentar :&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Kaciaannn deh elo…"&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Hi… hi.. hi… maaf-maaf, saya hanya bercanda, jangan di ambil hati.&lt;br /&gt;Bukannya congkak.. bukannya sombong.. atau kagetan karena baru 2.5 tahun terakhir tinggal di Bangkok dan Singapore, terus seenak udelnya sendiri ngeledek saudara-saudara yang masih di tanah air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya , dalam tulisan ini, saya ingin menghibur saudara-saudara yang jawaban atas pertanyaan-pertanyaan diatas = ya atau 80% ya. Jika demikian halnya, maka nasib Anda sebenernya tidak jauh beda dengan nasib saya. Cuma sedikit perbedaannya yaitu, bagi saya : itu nasib saya dulu, sementara bagi Anda: yah… itu nasib anda sekarang &lt;em&gt;(lagi : kaciaannn deh elo… hi.. hi..hi.. ketawa jahil). &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Ok, sekarang saya serius. Kalau Ada yang bertanya: apa sih yang bisa dibanggakan &lt;em&gt;for being Indonesian&lt;/em&gt;? Maka jawaban saya adalah : Kita harus bangga karena kita orang Indonesia &lt;strong&gt;Bisa dan Biasa hidup susah!!!&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Becanda lagi nih?&lt;br /&gt;Nggak, saya Serius!! Saya nggak boong. Kalau saya boong biarkan Tuhan memberikan cobaan yang berat pada saya (red : kata pak ustadz harta yang berlimpah merupakan cobaan yang berat)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemampuan untuk hidup susah (saya sebut aja &lt;em&gt;"survival ability&lt;/em&gt;" ya) tidak dimiliki orang-orang yang lama hidup di negara-negara mapan.&lt;br /&gt;Boss saya (orang India) pernah cerita: suatu ketika teman-nya-sebut saja Sarukh- dan keluarganya pamit pada boss saya pulang ke negara asalnya,India yang murah meriah untuk menikmati pensiun dini, setelah 15 tahun kerja di Singapore . &lt;em&gt;Eee…&lt;/em&gt; belum satu tahun pamitan, pulang ke India, si Sarukh sudah balik lagi ke Singapore, dan kali ini minta bantuan Boss saya untuk dicariin kerjaan lagi di Singapore.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;What happened?&lt;/em&gt; Tanya boss saya. Sarukh bercerita, setelah pulang ke India, anak remajanya yang dibesarkan di Singapore menjadi rada-rada stress dan menjadi pasien tetap psikiater di sana. Selidik-punya selidik agaknya hal itu disebabkan karena anaknya Sarukh tidak bisa menyesuaikan diri terhadap perubahan lingkungan dari kondisi yang sangat mapan (Singapore) ke kondisi yang sebaliknya (India).&lt;br /&gt;Jadi, dalam hal ini, anak si Sarukh yang sudah biasa hidup dalam kemapanan tidak punya "&lt;em&gt;kemampuan bertahan waras"&lt;/em&gt; untuk hidup di negara yang belum mapan. Demi kebaikan anaknya, akhirnya si Sarukh memutuskan menunda pensiun dini-nya dan kembali kerja di Singapore.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita-kita yang sudah biasa hidup susah di Jakarta, pindah or berkunjung ke India sih nggak ada masalah. Saya jadi ingat, 2 tahun lalu ketika saya dan rekan-rekan kerja saya berkunjung ke India, boss saya wanti-wanti untuk : bawa obat sakit perut, dan selama di India hanya minum-minuman dari botol/kaleng. Kalau ke restoran lokal jangan sekali-kali minum air putih yang disediakan dari dari teko/ceret di restoran tersbut, karena kebersihan airnya tidak terjamin, dan biasanya perut orang asing tidak siap untuk itu; begitu nasehat boss saya.&lt;br /&gt;Pada waktu itu satu rombongan yang berangkat ke India terdiri dari 5 orang. Satu orang Jepang –dari Jepang, dua orang Singapore dan dua orang Indonesia (termasuk saya baru sebulan kerja di Singapore).&lt;br /&gt;Dalam 2 minggu kunjungan ke India, kolega dari Singapore dan Jepang langsung menderita diare di Minggu pertama ke India. Diseliki, kemungkinan penyebabnyat adalah mereka pernah memesan kopi atau teh di restoran lokal pada saat makan siang (yang tentunya tidak dari botol). Sementara si orang Jepang, walaupun secara ketat dia hanya minum-minuman botol atau kaleng selama makan di restoran-restoran lokal, terkena diare, diduga karena si orang jepang ini menggunakan air keran dari hotel untuk berkumur-kumur selama sikat gigi. Sedangkan saya dan satu orang rekan lagi dari Indonesia, sehat walafiat tidak menderita suatu apapun selama di sana (mungkin karena di Indoneisa, sudah terbiasa jajan es dipinggir jalan yang airnya tidak lebih bersih dari air di restoran-restoran India)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;What is the moral of the story?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Kita harus bangga karena Kita bisa lebih baik dari orang Jepang dan Singapore!!!! (&lt;em&gt;at least&lt;/em&gt;, dalam hal ketahanan perut).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita lainnya lagi, bulan lalu saya di kirim kantor (yang base-nya di Singapore) untuk mengikuti sebuah workshop di Rio de Janeiro Brazil. Total waktu trempuh saya dari Singapore ke hotel saya di Rio de Janeiro Brazil adalah 36 jam (termasuk 5 jam transit di Eropa). Sebenarnya, dari Singapore ke Brazil, jalur yang paling umum dan cepat adalah ke arah Timur, transit di Amerika, terus ke Brazil. Dengan jalur ini saya perkirakan, dalam 26-30 jam saya sudah bisa mencapai Brazil. Cuma, karena saya orang Indonesia, untuk transit di Amerika pun saya butuh apply VISA Amerika, yang mana proses aplikasi visa tersebut memerlukan waktu sedikitnya 2 minggu. Padahal, saya tidak punya waktu sebanyak itu. Alhasil, yah begitulah, saya harus memilih rute yang sebelaliknya, mengeliling belahan bumi bagian barat, transit di Amsterdam, dengan waktu tempuhnya 6- 10 jam lebih lama. Jadinya, cukup melelahkan, tapi nggak apa-apa, namanya juga orang Indonesia, harus terbiasa dengan hal-hal yang susah-susah.&lt;br /&gt;Saya sampai di hotel di Rio, hari minggu jam 11 Malam. Dan keesokan paginya saya langsung mengikuti workshop di sana. Walaupun masih terasa lelah, saya tetap berusaha untuk terlibat aktif dalam workshop pagi itu, dengan mengajukan pertanyaan atau memberi masukan atas pertanyaan peserta lainnya. Pada saat istirahat, saya sempat berbincang-bincang dengan kolega-kolega dari Jerman peserta workshop itu. Beberapa dari mereka mengeluh kecapaian dan menderita "jet lag", karena mereka telah menempuh 12 jam perjalanan dari Jerman, dan baru saja tiba di Brazil hari minggu siang, sehingga belum cukup waktu istirahat untuk adaptasi Jet lag, begitu keluh mereka. Lalu, saya berkata pada mereka, bahwa sebenarnya mereka lebih beruntung dari saya, karena saya harus menempuh 36 jam perjalanan dari Singapore, dan baru tiba di hotel pukul sebelas malem, kurang dari 12 jam sebelum workshop dimulai. Mereka tertegun, salah seorang dari mereka bertanya pada saya:&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Tapi kamu naik pesawat, di kelas Bisnis khan?"&lt;br /&gt;"Tidak, jatah saya Cuma kelas ekonomi",&lt;/em&gt; jawab saya lagi.&lt;br /&gt;Mereka terlihat semakin terkagum-kagum (atau kasihan?), dan salah seorang dari mereka memuji.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Its very impressive, you guys Singaporean are really-really hard workers" &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"I’m not Singaporean, I’m Indonesian working in Singapore"&lt;/em&gt; jawab saya dengan bangga&lt;em&gt;.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Agaknya, hari itu saya menjadi cukup terkenal di kalangan kolega dari Jerman, hanya karena terbang selama 36 jam dari Singapore, baru tiba kurang dari 12 jam sebelumnya dan masih bisa secara aktif mengikuti workshop tersebut. Saya tahu kalau saya menjadi pembicaraan mereka , karena sewaktu makan malam, kolega dari jerman lainnya - yang saya tidak pernah ceritakan mengenai perjalanan saya dari Singapore – bertanya pada saya tips and trick supaya bisa tetap segar setelah menempuh perjalanan begitu lama (ini berarti dia mendapatkan cerita saya dari kolega jerman lainnya). Saya bingung jawabnya. Ingin sekali saya menjawab :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Berlatihlah dengan naik kereta api super ekonomi dari Jakarta ke Surabaya di saat-saat mendekati hari lebaran. Kalau Anda terbiasa dengan alat transportasi ini- di mana tidak hanya species "Homo Sapiens" yang bisa menjadi penumpangnya , dan di tambah lagi waktu tempuhnya yang lama sekali karena hampir di setiap setasion harus berhenti, maka Anda akan bisa menaklukkan semua alat transportasi terbang apapun yang ada di muka bumi ini".&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Namun, saya urungkan memberi jawaban di atas, karena saya khawatir dia tidak akan mengerti atas apa yang saya jelaskan, dan saya yakin mereka tidak bisa "survive" dengan alat transportasi ini, yang fasilitasnya tentu jauh dari kelas bisnis pesawat terbang (Note : kolega saya dari jerman, otomatis mendapat fasilitas kelas bisnis di pesawat apabila waktu tempuhnya lebih dari 10 jam).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seminggu, setelah saya pulang dari Workshop di Brazil, ntah karena terkagum-kagum dengan "kemampuan hidup susah" (dari sudut pandang mereka) yang saya miliki, atau karena alasan lainnya, kolega saya dari Jerman yang saya temui di Brazil, menghubungi atasan saya yang intinya meminta saya untuk ditugaskan ke Jerman, membantu project yang saat ini sedang berjalan di sana. Alhasil, bulan September – November saya akan bergabung dengan kolega-kolega di Jerman menyelesaikan project di sana.&lt;br /&gt;Cukup membanggakan, karena, kata boss saya, ini kali pertama "Kantor Pusat" meminta bantuan dari kantor cabang untuk mensupport project yang sedang mereka kerjakan di kantor pusat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, setelah membaca tulisan ini, saya harap pembaca sekalian punya alasan semakin bangga menjadi orang Indonesia. Kalau anda lagi di luar negeri dan ditanya "Anda dari mana?" Jawablah dengan bangga:&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ya, Saya dari Indonesia,&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Negara yang lagi susah,&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Saya juga hidupnya susah&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Tapi saya bisa "survive", &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Dan saya bangga karenanya!!!Any Problem???&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Mahendra Hariyanto,&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Singapore, 24 Agustus 2006.&lt;br /&gt;Selamat merayakan HUT kemerdekaan. MERDEKA!!!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/16339653-115701965976469553?l=mahendrahariyanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mahendrahariyanto.blogspot.com/feeds/115701965976469553/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=16339653&amp;postID=115701965976469553' title='14 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/16339653/posts/default/115701965976469553'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/16339653/posts/default/115701965976469553'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mahendrahariyanto.blogspot.com/2006/08/bangga-menjadi-orang-indonesia.html' title='Bangga Menjadi Orang Indonesia'/><author><name>Mahendra_Hariyanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14146151298243190386</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/blogger/2929/1547/1600/Taiwan2.jpg'/></author><thr:total>14</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-16339653.post-113506247233019275</id><published>2005-12-20T14:55:00.000+08:00</published><updated>2006-05-10T15:44:37.486+08:00</updated><title type='text'>Bali-ku, Bali-mu, Bali kita… ke Bali yuk!!</title><content type='html'>“BALI-ku MENANGIS LAGI”, itulah judul surat elektronik yang ditulis Komang satu hari setelah BOM Bali II Meledak 1 Oktober lalu. Dalam suratnya, selain bercerita tentang kronologis kejadian peristiwa, Komang juga berpesan pada pembaca untuk membantu pemulihan kondisi Pariwisata Bali dengan tidak membatalkan rencana kunjungan ke pulau dewata itu.&lt;br /&gt;Dalam surat itu pula, Komang mengekspresikan kekhawatirannya, perasaan tak menentu membayangkan dampak terburuk yang bisa terjadi pada pariwisata dan masyarakat Bali pasca Bom Bali II :&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Kami orang Bali harus kembali ambil cangkul dan menjadi petani”&lt;/em&gt; begitu tulis komang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekhawatiran Komang bukan tidak beralasan. Bom Bali I telah merubah drastis kehidupannya. Sebelum Bom bali I meledak, Komang pernah memiliki sebuah SPA dan aroma terapi house yang cukup populer di kalangan wisatawan Australia. Selain servicenya bagus harganya pun sangat competitive.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oktober 2002, Bom bali I meledak, ratusan turis Australia menjadi korban dalam kejadian ini. Tak heran bila turis Australia, (yang notabene merupakan pelanggan terbesar SPA-nya Komang), enggan kembali mengunjungi Bali lagi.&lt;br /&gt;Dampaknya pada usaha SPA Komang pun tak terhindarkan, semakin hari bisnis spa yang sedang berkembang itupun perlahan-lahan kekurangan pengunjung. Sampai pada akhirnya, mau tidak mau , usaha SPA yang dirintis komang dari nol itu haris ditutup. Habislah sudah harta benda dan modal usaha yang telah ditanamknnya pada bisnis spa itu. &lt;em&gt;Gone with the wind… I meant... Gone with the bomb..&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Untuk menyambung hidupnya , Komang harus mulai lagi semuanya dari nol. Pekerjaan sebagai supir taxi merangkap pemandu wisata pun dia lakoni.&lt;br /&gt;Perubahan yang sangat drastis sebenarnya, dari seorang pemilik spa yang cukup sukses menjadi seorang supir taksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, dari pekerjaannya sebagai pengemudi taksi dan pemandu wisata, Komang bisa menyisihkan pendapatannya sedikir demi sedikit sampai akhirnya cukup untuk mengambil kredit mobil yang bisa disewakan pada wisatawan .&lt;br /&gt;Kehidupan yang terpuruk jatuh pasca Bom bali I itu pun berangsur-angsur mulai membaik kembaili. Tapi itu tidak berkangsung lama. Belum lagi kondisi ekonomi pulih seperti sedia kala , Bom Bali II meledak lagi 1 Oktober lalu.&lt;br /&gt;“&lt;em&gt;Duh apalagi ini..” pikir komang.”&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Ledakan itu telah terjadi. Kekhawatiran dan bayang-bayang suramnya masa depan menghantui kehidupan Komang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, 2 bulan lebih setelah Bom Bali II meledak, Komang belum banyak merasakan tanda-tanda pulihnya Pariwisata Bali.&lt;br /&gt;Sampai akhir November lalu, Order menjadi pemandu wisata yang diterima hanya ada 2 order. Satu order dibulan Oktober dan satu order lainnya di bulan November.&lt;br /&gt;Cukup mengkhawatirkan memang. Jika tidak ada perbaikan, bukan tidak mungkin Komang harus banting setir lagi untuk menyambung hidupnya. Kalau Bom Bali I telah merubah hidupnya dari seoarang pengusaha muda menjadi Supir taksi, setelah Bom Bali II, Ntah harus jadi apalagi dia sekarang ….&lt;br /&gt;*******&lt;br /&gt;Cerita Komang di atas adalah gambaran sekelumit dampak serangan teroris pada industri pariwisata dan masyarakat Bali. Kerusakan itu telah terjadi, bukanlah hal yang mudah untuk memperbaikinya.&lt;br /&gt;Namun demikian, mungkin masih ada yang bisa kita lakukan membantu Komang dan masyarakat Bali pada umumnya.&lt;br /&gt;Sederhana saja, kalau memang punya waktu dan budget buat berllibur di akhir tahun ini :&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Just put Bali on your itinerary list.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taipei, 20 Desember 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahendra Hariyanto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;** Komang dalam tulisan di atas, adalah teman penulis semasa SMA di Magelang, 1990-1993. &lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/16339653-113506247233019275?l=mahendrahariyanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mahendrahariyanto.blogspot.com/feeds/113506247233019275/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=16339653&amp;postID=113506247233019275' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/16339653/posts/default/113506247233019275'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/16339653/posts/default/113506247233019275'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mahendrahariyanto.blogspot.com/2005/12/bali-ku-bali-mu-bali-kita-ke-bali-yuk.html' title='Bali-ku, Bali-mu, Bali kita… ke Bali yuk!!'/><author><name>Mahendra_Hariyanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14146151298243190386</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/blogger/2929/1547/1600/Taiwan2.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-16339653.post-113437650330491522</id><published>2005-12-12T16:34:00.000+08:00</published><updated>2005-12-12T16:37:54.226+08:00</updated><title type='text'>Kangen (Puisi)</title><content type='html'>Istriku, malam ini aku merindukanmu&lt;br /&gt;Begitupun malam kemarin&lt;br /&gt;Malam sunyi dingin menusuk..&lt;br /&gt;Gelitik tulangku merindu hangat sentuhan lembutmu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istriku,&lt;br /&gt;Jarang terucap “ku cinta padamu”&lt;br /&gt;Jarang kaudengar “ku sayang padamu”&lt;br /&gt;Tak sepadan ucapan itu&lt;br /&gt;Ungkapkan cinta - sayangku padamu..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istriku,&lt;br /&gt;Detik-detik penantianku..&lt;br /&gt;Cintaku tumbuh terpupuk rindu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam larut sunyi..&lt;br /&gt;Dingin teruk menusuk…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat tidur istrku..&lt;br /&gt;Biarkan Rinduku membelai mimpimu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Taipei, 11 Desember 2005&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/16339653-113437650330491522?l=mahendrahariyanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mahendrahariyanto.blogspot.com/feeds/113437650330491522/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=16339653&amp;postID=113437650330491522' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/16339653/posts/default/113437650330491522'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/16339653/posts/default/113437650330491522'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mahendrahariyanto.blogspot.com/2005/12/kangen-puisi.html' title='Kangen (Puisi)'/><author><name>Mahendra_Hariyanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14146151298243190386</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/blogger/2929/1547/1600/Taiwan2.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-16339653.post-113409130505467477</id><published>2005-12-09T09:20:00.000+08:00</published><updated>2005-12-09T11:50:22.140+08:00</updated><title type='text'>Santapan Rohani</title><content type='html'>Di akhir bulan ramadhan lalu aku dan istriku mendapatkan santapan rohani yang cukup menyejukkan batin kami. Santapan rohani itu, Bukan dating dari aa gym, bukan dari Dai Jefry, bukan dari dai kondang ataupun dari dai ‘konangan’ belangnya .&lt;br /&gt;Santapan itu datangnya dari seoarang janda dan dua anak kecil yang berjumpalitan gembira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya, santapan rohani selalu diasosiasikan dengan ceramah-ceramah agama yang mengisik kekosongan dan menyejukan batin kita.&lt;br /&gt;Sebenarnya, Urusan Menyejukkan batin, bisa dilakukan dimana saja, tidak perlu menyatroni para dai dan penceramah yang mendongengi kita dengan indahnya surga yang tak terkira.&lt;br /&gt;Bertafakur Bersujud syukur atas nikmat-nikmatnya yang telah diberikan adalah alternatif lain yang bisa kita pilih untuk menenangkan batin kita .&lt;br /&gt;Alternatif lainnya lagi , adalah dengan memberi. Memberi dengan keikhlasan hati kan menyejukkan batin kita, se sejuk-sejuknya, lebih sejuk dari yang pernah kita bayangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam memberi, ada satu katu kunci yang harus selalu kita pegang: ikhlas.&lt;br /&gt;Memberi dengan ikhlas menuai kesejukan hati. Memberi dengan pamrih menuai kecemasan hati, cemas, bila pemberian tersebut tak terbalas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Hmm&lt;/em&gt; jadi teringat pengalamanku waktu masih SMP dulu. Di suatu sholat jumat yang kuikuti, seperti biasa kotak amal diedarkan diantara umat. Dan ketika tiba kotak itu dihadapanku, tmbul kebimbangan dihati, ingin menyumbang tapi…. &lt;em&gt;ah sayang&lt;/em&gt;.. uang jajan ku tak begitu banyak, bila kusumbangkan sebagian, berarti uang jajanku yang tak seberapa itu pun akan berkurang.&lt;br /&gt;Di tengah kebimbangan itu, entah kebetulan , atau mungkin itu merupakan bisikan malaikat melaui sang khotib yang sedang memberikan ceramah jum’at nya, pada saat bersamaan, sang khotib membahas besaran-besaran pahala yang akan dibalas oleh Allah dari setiap sen uang yang kita sumbangkan. Apalagi di bulan ramadhan, ganjarannya bisa sampai 70 x lipat!!!! Waaaaaaah.. menarik sekali…….,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa diduga selanjutnya, seperti baru saja mendapat wangsit dari sang khotib, aku yang semula ragu, akhirnya dengan semangat 45 “mendermakan” juga sebagian uang jajanku ke kotak amal, dengan harapan mendapt ganjaran yang setimpal.. or.. bertimpal-timpal. Lumayan kan, nyumbang 1000, ganjarannya 70 X 1000 = 70000.&lt;br /&gt;Setelah selesai sholat jumat, aku segera bergegas menuju pintu keluar, ingin rasanya cepat pulang, berharap-harap cemas… siapa tahu begitu sampai di rumah, ada rejeki tak terduga sebagai ganjaran dari sedekah ku ke kotak amal jumat itu.&lt;br /&gt;Tapi, apa yang terjadi? begitu sampai di pintu keluar masjid…. harapan mendapatkan ganjaran berubah menjadi umpatan kekesalan dan kekecawaan. Sendal kesayanganku hilang tak berbekas!!!! Sial.&lt;br /&gt;Sepanjang perjalanan pulang, tanpa alas kaki- di aspal yang panas, tak henti-hentinya aku mengumpat di dalam hati:&lt;br /&gt;“Tuhan, gimana sih?? Katanya setiap sedekah di bulan puasa diganjar 70 x lipat?, mana buktinya? Sendal kesayangan ku kok malah hilang!!!. Kalau tahu gini kan tadi aku nggak nyumbang, biar bisa kutabung buat beli sandal baru!!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He-he-he.. sekarang aku tertawa sendiri mengingatnya.. begitulah kalau kita memberi dengan pamrih, tidak dengan keikhlasan hati, yang didapat bukannya kesejukan hati tapi kecemasan dan kekesalan hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, &lt;em&gt;what is the moral of the story?&lt;/em&gt; Simple aja: kalau jumatan, jangan pake sendal yang terlalu bagus….. &lt;em&gt;( waak!!!.. jaka sembung bawa golok, ngak nyambung bok..)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ok, kembali lagi ke ceritaku tentang tentang santapan rohani di akhir bulan puasa lalu. Begini ceritanya :&lt;br /&gt;Seperti biasanya, sebelum lebaran aku dan istrku menyisihkan sebagian uang untuk disedekahkan. Tahun-tahun sebelumnya, biasanya kami hanya menitipkan uang tersebut ke masjid terdekat untuk disalurkan pada yang membutuhkan.&lt;br /&gt;Tapi tahun ini, dengan kesulitan ekonomi yang tengah di hadapi bangsa ini, istriku dan aku sepakat untuk menyalurkan sedekah kami yang tak seberapa itu langsung kepada orang sekitar yang layak untuk menerimanya.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Sekalian membangun silaturahnmi dengan orang-orang dekat”,&lt;/em&gt; begitu kata istriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka siang itu, bertandanglah istriku ke sebuah rumah yang didalamnya terdapat seorang Ibu dengan 2 orang anak kecil- yang memang sedang membutuhkan uluran tangan untuk dapat menjalani hidup di tengah kesulitan ekonomi yang sedang mendera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepulang dari rumah itu, istriku menelponku… bercerita betapa bahagianya dia melihat keluarga itu gembira menerima ‘bantuan’ dari kami yang tak seberapa itu.&lt;br /&gt;Si sulung, 9 Tahun, berjumaplitan gembira membayangkan berlebaran dengan baju baru, sementara si ragil, 3 tahun, walau belum banyak mengerti ikut berlompatan gembira mengikuti si sulung.&lt;br /&gt;Melihat kegembiraan mereka, istriku pun ikut bergembira&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Seneng ya kalau kita bisa membuat orang lain seneng ”&lt;/em&gt; begitu komentar istriku .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istriku dan aku baru saja merasakan ‘santapan rohani’ yang unik. 'Santapan rohani’  yang didapatkan dari keikhlasan membantu orang lain, walapun bantuan itu tak seberapa. Sedikti berbuat sesuatu dengan ikhlas, ternyata bisa menjadi santapan rohani yang yang cukup menyejukkan bathin yang tidak pernah kudapatkan di “tempat-tempat hiburan manapun.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ahh..&lt;/em&gt; betapa bodohnya aku waktu masih bujangan dulu. Hampir setiap akhir minggu aku rajin mengunjungi café-café/ restoran mahal dan tempat-tempat hiburan lainnya , membelanjakan sejumlah besar uang, untuk mencari kesenangan. Betul.. aku mendapatkan kesenangan yang kucar. Tapi, ternyata kesenangan-kesengang seperti itu sifatnya semu, serta tidak banyak menyejukkan batin kita. Kesejukan batinlah yang akan membawa kita pada kebahagiaan yang sesungguhnya.&lt;br /&gt;Semakin sering kita memberi dengan ikhlas, semakin terasah batin kita menghalau sifat-sifat serakah yang ada disetiap kita manusia. Tanpa sifat serakah, kita tidak akan pernah lagi diperbudak uang dan materi. Dan manakala kita bisa menghalau sifat serakah itu, hidup akan menjadi lebih tenang bahagia. Mengumpulkan harta secukupnya saja, membagi pada yang mebutuhkan jika berlebihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ahh...&lt;/em&gt; Seandainya saja sejak dulu, uang yang kuhamburkan di tempat-tempat hiburan semacam itu kuberikan pada orang-orang yang lebih membutuhkan, mungkin akan lebih bermanfaat kiranya.&lt;br /&gt;Tidak hanya bagi yang menerima tetapi juga bagi kesejukan batin yang memberi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Penutup&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Tahun 2005 adalah tahun yang sulit bagi bangsa Indonesia, di awal tahun, dampak bencana tsunami masih terasa. Di pertengahan tahun, ancaman teroris merajalela. Di akhir tahun, inflasi melambung tinggi rakyat miskin pun bertambah banyak.&lt;br /&gt;Ditengah cobaan yang sedang mendera bangsa kita, diantara kita, masih ada yang jauh lebih beruntung daripada sauadara-saudara kita lainnya yang harus menjalani hidup di ambang garis kemiskinan .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kalau saja kita termasuk salah satu dari kelompok yang ‘beruntung’ tersebut, tidak ada salahnya kita membagi sedikit rejeki kita pada saudara-saudara kita yang membutuhkan.&lt;br /&gt;Tengoklah sekeliling kita, lihatlah tetangga-tetangga kita, atau kampung di sekitar rumah kita, kalau masih ada yang berkekurangan, bantulah dengan ikhlas, membantu sekaligus membangun silaturahmi dengan orang sekitar.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Sudah saatnya kita memupuk rasa malu bila kita membiarkan orang-orang di sekitar kita kelaparan , sementara kita bisa makan tiap hari dengan kenyang.&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/16339653-113409130505467477?l=mahendrahariyanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mahendrahariyanto.blogspot.com/feeds/113409130505467477/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=16339653&amp;postID=113409130505467477' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/16339653/posts/default/113409130505467477'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/16339653/posts/default/113409130505467477'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mahendrahariyanto.blogspot.com/2005/12/santapan-rohani.html' title='Santapan Rohani'/><author><name>Mahendra_Hariyanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14146151298243190386</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/blogger/2929/1547/1600/Taiwan2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-16339653.post-112996447152392304</id><published>2005-10-22T14:54:00.000+08:00</published><updated>2005-10-25T15:57:45.256+08:00</updated><title type='text'>BBM, Warisan Nenek Moyang atau Titipan anak Cucu?</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#000066;"&gt;Warisan Nenek Moyang&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Masih Ingat lagu nya iwan Fals yang judulnya Galang Rambu Anarki (1982)?&lt;br /&gt;Lagu yang berisi penolakan pedas pada kebijakan pemerintah yang baru saja menaikkan harga BBM padawaktu itu.&lt;br /&gt;Buat yang tidak ingat/ tidak tahu, Berikut petikan lagunya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;GALANG RAMBU ANARKI - Iwan Fals (1982)&lt;br /&gt;galang rambu anarki anakku&lt;br /&gt;lahir awal januari menjelang pemilu&lt;br /&gt;galang rambu anarki dengarlah&lt;br /&gt;terompet tahun baru menyambutmu&lt;br /&gt;galang rambu anarki ingatlah&lt;br /&gt;tangisan pertamamu ditandai bbm&lt;br /&gt;membumbung tinggi (melambung)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reff:&lt;br /&gt;maafkan kedua orangtuamu&lt;br /&gt;kalau tak mampu beli susu&lt;br /&gt;bbm naik tinggi&lt;br /&gt;susu tak terbeli orang pintar tarik subsidi&lt;br /&gt;mungkin bayi kurang gizi (anak kami)&lt;br /&gt;galang rambu anarki anakku&lt;br /&gt;cepatlah besar matahariku&lt;br /&gt;menangis yang keras, janganlah ragu&lt;br /&gt;tinjulah congkaknya dunia buah hatiku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;doa kami di nadimu&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1982, (saya masih berumur 7 tahun). Saya ingat, lagu ini sangat populer saat itu. Orang banyak yang berkeberatan dengan kenaikan BBM pada waktu itu merasa terwakili dengan lagu ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Tahun 2005, 23 tahun sudah berlalu, BBM naik lagi, lagu lama "Galang Rambu Anarki", berkumandang lagi dengan nada-nada dan syair-syair yang baru. &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebijakan kenaikan BBM bukanlah kebijakan yang popular, setiap kali BBM naik selalu ada penolakan, Banyak yang mengecam, banyak yang tak suka. Tidak hanya rakyat jelata, kaum cendekia pun berteriak keras menentangnya.&lt;br /&gt;Dari dulu, setidaknya sejak tahun 1982 sampai 2005 (sebelum tahun 1982, saya tidak ingat), setiap adanya kenaikan BBM selalu di respon oleh kiritkan dan penolakan oleh masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ok, Marilah kita berandai-andai… Seandainya saja sejak tahun 1982, pemerintah yang begitu baik tidak dan tidak sombong, tidak tega menakikkan harga BBM karena tersentuh lagu sumbangnya Iwan Fals dan pengikutnya. Dan seandainya saja semua sepakat bahwa Minyak adalah warisan nenek moyang yang bisa kita nikmati sebanyak-banyakya.&lt;br /&gt;Dengan asumsi ini, harga minyak tidak perlu disesuaikan dengan harga international, yang perlu diperhatikan hanyalah ongkos produksi saja .&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Apa yang akan terjadi?&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Well,&lt;/em&gt; Yang terjadi adalah harga minyak di Indonesia akan sangat amat audzubillah murah sekali. Tahun 2004, harga pengolahan minyak hanyalah Rp. 540/ liter (&lt;em&gt;Fundamental Kebijakan BBM&lt;/em&gt;, Kwik Kian Gie, Kompas, 14 Maret 2005) so, dengan asumsi minyak adalha warisan nenek moyang, maka harga minyak juga akan dijual Rp. 540/ liter!!!!,&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Lho… nggak ada margin?&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Balik lagi ke asumsi awal: minyak adalah &lt;em&gt;warisan nenek moyang&lt;/em&gt;, jadi pertamina maupun pemerintah tidak boleh mengambil margin 1% pun!!. Tidak peduli dengan defisit APBN or &lt;em&gt;what so ever&lt;/em&gt;, haram hukumnya bagi pemerintah/ pertamina untuk mencicipi minyak warisan nenek moyang bangsa Indonesia!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan berikutnya dengan harga Rp. 540/ liter apakah akan lebih makmur?&lt;br /&gt;Ya.. tentu saja.. dengan harga minyak, sumber energi utama, murah meriah seperti itu, harga barang dan jasa akan relatif lebih murah..&lt;br /&gt;Belum lagi terbilang Penanaman modal asing di Indonesia akan semakin meningkat dan mendorong pertumbuhan ekonomi indioneisa.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Penanaman Modal Asing?? Apa hubungannya??&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja ada hubungannya, ada gula ada semut. Ada minyak murah ada Investor.&lt;br /&gt;Dengan BBM super murah tralala , Industri-industri PMA akan berlomba lomba menanamkan investasi di Indonesia, berbondong-bondong memindahkan pabrik-pabriknya di Eropa /USA/ Australia/ Cina/ India ke Indoneisa untuk ikut mengeruk BBM Murah sebanyak-banyak nya sebagai energi utama dalam proses produksi mereka.&lt;br /&gt;So dengan masuknya Investor asing ini, akan memacu pertumbuhan ekonomi bukan?? (&lt;em&gt;Bukan.)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, dengan BBM murah akan membuka peluang bagi seluruh lapisan masyarakat Indonesia untuk cepat Kaya dengan cara gampang. Wong cilik bisa kaya raya dengan cara yang mudah .&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Gimana caranya?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Gampang aja, selundupin aja tuh minyak murah keluar negeri! Kalau soal nyelundupin minyak mah nggak usah sekolah tinggi-tinggi, tukang masak, juru mudi, kepala satpam aja bisa (&lt;a href="http://kompas.com/utama/news/0509/09/152704.htm"&gt;http://kompas.com/utama/news/0509/09/152704.htm&lt;/a&gt;) , 8 trilyun per tahun lumayan kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga bagi para nelayan, daripada repot-repot nangkap ikan, mending bawa minyak sebanyak-banyaknya dari daratan, terus dijual ke kapal asing di tengah lautan. Dengan modal cuma Rp 540/liter, bisa di jual Rp 8000/ liter. Sangat menggiurkan bukan? (&lt;em&gt;bukan&lt;/em&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, kesimpulannya: para penganut paham “&lt;em&gt;minyak adalah warisan nenek moyang&lt;/em&gt;” percaya bahwa dengan menekan harga BBM semurah murahnya akan memberikan kemakmuran sebesar-besarnya bagi rakyat Indonesia.&lt;br /&gt;Cuma,…. sampai kapan? Sampai kapan kemakmuran &lt;strong&gt;semu &lt;/strong&gt;seperti ini bertahan?&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Apakah masih ada minyak yang tersisa buat anak cucu kita?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Anak Cucu? Siapa peduli??&lt;br /&gt;Namanya juga “&lt;em&gt;warisan nenek moyang’&lt;/em&gt;.. peduli amat dengan nasib anak cucu….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan paham inilah mereka kembali beramai-ramai mendendangkan lagu lama dan sumbang Iwan fals “Galang Rambu Anarki” dalam bentuk-bentuk yang baru: Demo besar-besaran, Interpelasi di DPR atau cuap-cuap di media massa menentang kenaikan BBM agar dapat menikmati sebesar-besarnya warisan nenek moyang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;Titipan Anak Cucu.&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan mereka. Saya yang naïf dan lugu ini menganut paham Titipan Anak Cucu . Artinya saya percaya bahwa minyak di bumi Indonesia bukanlah semata-mata warisan nenek moyang pada kita , tetapi juga titipan anak cucu, yang harus dikelola dengan cara bijaksana.&lt;br /&gt;Dengan paham ini saya sadar betul bahwa subsidi BBM, menjual harga minyak semurah mungkin pada rakyat, secara langsung maupun tidak langsung akan mendorong konsumsi BBM yang tidak efisien, yang berarti pula mencuri jatah minyak ‘titipan anak cucu’ kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, dengan pengurangan/ penghilangan subsidi BBM, dalam jangka panjang akan memberikan manfaat yang lebih besar bagi bangsa Indonesia, seperti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Penghilangan subsidi BBM akan mendorong rakyat Indonesia untuk mendayagunakan energi secara efisien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Buktinya otentiknya mannaa? Kok teori ajaa??&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Belum ada sih.... tapi Secara kasat mata dapat kita rasakan adanya. perubuhan perilaku boros masyatakat menjadi lebih effisien. seperti: &lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Adik ipar saya yang sebelum BBM naik, kerja selalu bawa mobil (dan sendirian pula), dari bekasi ke daerah blok M. Setelah naiknya BBM mulai putar otak untuk cari teman sekomplek / yang bisa pergi kerja bareng-bareng dengan urunan uang bensin atau gantian naik moblinya (hari ini pake mobil si A, besok pake mobil si B, C, D dst). Dengan kondisi seperti ini yang tadinya 4 orang menggunakan 4 mobil, bisa dihemat menjadi 4 orang hanya 1 mobil. Alternatif lainnya, adik ipar saya sedang berpikir untuk beli motor untuk kerja, yang tentunya bensinya jauh lebih hemat. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Budi, teman saya, (dan juga Bapak saya), setelah BBM naik, menjual mobil tua super borosnya Feroza dan Kijang tua tahun th 90-an dengan mobil kecil imut mungil 1000 cc. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tumpangan. Setelah BBM naik, banyak orang yang menawarkan tumpangan, sehingga mobil yang biasanya hanya di isi satu orang, jadi lebih “fully utilized”, di isi beberapa orang. Bahkan di ineternet ada yang mencoba mengorganisir tumpang menumpang ini.&lt;a href="http://www.nebeng.com/entry_driver1.php"&gt;http://www.nebeng.com/entry_driver1.php&lt;/a&gt; &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;2.Mendorong meningkatnya kontrol masyarakat terhadap untuk mewujudkan system ekonomi dan pemerintahan yang lebih effisien dan pemberantasan korupsi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Lha kok bisa?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Bisa dong…. Misalnya saja, setelah BBM naik, Kalangan Industri semakin kenceng teriakannya minta pemerintah mengentaskan ekonomi biaya tinggi (e.g Kadin Desak Pemerintah Revisi Perda Timbulkan Biaya Tinggi, &lt;a href="http://www.investorindonesia.com/news.html?id=1110127959"&gt;http://www.investorindonesia.com/news.html?id=1110127959&lt;/a&gt;). Intinya, dengan kenaikan BBM ini menyadarkan kita bahwa dengan harga BBM yang setinggi ini ekonomi biaya tinggi/ korupsi harus dientaskan untuk dapat tetap bertahan hidup.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;3.Subsidi yang lebih tepat sasaran, &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Lho katanya subsidi nggak bagus??&lt;/em&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Iya emang betul, pada dasarnya subsidi harus diminimalisir. Tapi kita juga tidak boleh menutup mata banyak kaum miskin yang perlu dibantu untuk bertahan hidup. Nah dengan kenaikan BBM baru-baru ini, subsidi bisa langsung disalurkan pada yang membutuhkan dengan subsidi langsung pada keluarga miskin. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sebelum BBM naik yang banyak subsidi yang justru dinikmati oleh orang-orang mampu, yang punya kendaraan pribadi, seperti contohnya adik ipar saya tadi yang ke kantor bawa mobil (dan sendirian pula), sebelum BBM naik, dia kurang lebih mengkonsumsi 8 liter bensin/ hari. Anggaplah nilai subsidi= Rp 2500/ liter, ini berarti setiap harinya adik ipar saya menikmati subsidi = Rp 20000/ hari. Dalam sebulan dia menikmati subsidi Rp 500.000 – Rp.600.000. Itu baru 1 mobil!!! Menurut bang Yos, Jakarta setiap harinya ‘diserbu’ 600 ribu mobil &lt;http: story_id="320"&gt;. Jadi di Jakarta saja, ada 600 ribu kendaraan lainya yang menikmati subsidi seperti adik ipar saya. Artinya, dalam 1 hari (sebelum BBM naik) orang-orang mampu di Jakarta menikmati Rp 1.5 Milyar subsidi BBM/ atau Rp. 45 Milyar setiap bulannya. Itu baru Jakarta!!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dilain pihak, banyak juga yang berargumen kenaikan pajak kendaraan bermotor dapat mengurangi subsidi tidak tepat sasaran seperti di atas, dengan demikan, BBM tidak perlu dinaikkan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;It’s a good Idea!! &lt;/em&gt;but.. apabila harga BBM dalam negeri dan LN terlalu timpang, resiko penyelundupan minyak besar-besaran ke Luar Negeri sulit dihindari. Kalaupun bisa dihindiari, saya yakin ‘ongkos’ pengawasannya akan sangat besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Apalagi ya?? elaborate sendiri lah. Dll.. dlll&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Terus... Ijin bertanya!!! Kenapa masih banyak yang berteriak, kebijakan BBM tidak memihak rakyat kecil??&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Rakyat kecil yang mana?&lt;br /&gt;Kalau rakyat kecil yang pendapatan per kepala kurang dari Rp175.000, bulan, sudah di Bantu dengan seperti yang saya sebutkan pada point 3 di atas.&lt;br /&gt;Tapi kalau rakyat ‘kecil’ yang dimaksud : rakyat yang tadinya bawa mobil sendirian ke kantor, setelah BBM naik harus bawa tumpangan. Or rakyat ‘kecil’ yang sebelum BBM naik bisa langganan Tempo, kompas, Jakarta post, Business Week, setelah naik BBM Cuma bisa liat lewat internet.. itu mah bukan rakyat ‘kecil’… itu rakyat yang sok ‘kecil’!!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Terus lagi, Ijin bertanya lagi!&lt;/em&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Bagaimana dengan ancaman PHK dan atau perusahaan-perusahaan akan gulung tikar karena tidak mampu berkompetisi rengan harga BBM yang melambung? &lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;Yah…. untuk yang ini, harus diakui merupakan salah satu efek dari ‘pil pahit’ kenaikan BBM. Tapi di lain pihak, hal ini juga bisa digunakan sebagai filter untuk memilah-milah industri-industri apa saja yang memiliki keunggulan kompetitif yang tinggi dan tetap dapat bertahan hidup dengan kenaikan BBM, dan industri-industri manja yang hanya bisa bertahan hidup kalau BBM nya di subsidi.&lt;br /&gt;Dengan demikian, pemerintah dapat memberikan prioritas pemberian insentif pada Industri-industri yang memiliki keunggulan kompetitif yang tinggi.&lt;br /&gt;Lebih jauh lagi fenomena PHK ini akan menjadi tekanan bagi pemerintah untuk memangkas ekonomi biaya tinggi lebih intensif lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Jadi, pilih paham yang mana? Warisan Nenek Moyang atau Titipan anak Cucu?&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Sudah dibilang dari awal tadi jelas-jelas saya memilih paham Titipan anak Cucu. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Emang sudah punya anak cucu?&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Anak sudah, Feroze namanya, 10 bulan umurnya.. sedang lucu-lucunya.&lt;br /&gt;Nggak tega rasanya ‘jatah’ minyak buat Feroze di kemudian hari sudah dihabiskan oleh generasi sebelumnya dengan mengatasnamakan demi kemakmuran rakyat sebesar-besarnya (rakyat yang mana nggak jelas!!!!)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Bagaimana dengan anda?? Terserah!!!&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahendra Hariyanto,&lt;br /&gt;Taipei, 22 Oktober 2005.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/16339653-112996447152392304?l=mahendrahariyanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mahendrahariyanto.blogspot.com/feeds/112996447152392304/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=16339653&amp;postID=112996447152392304' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/16339653/posts/default/112996447152392304'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/16339653/posts/default/112996447152392304'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mahendrahariyanto.blogspot.com/2005/10/bbm-warisan-nenek-moyang-atau-titipan.html' title='BBM, Warisan Nenek Moyang atau Titipan anak Cucu?'/><author><name>Mahendra_Hariyanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14146151298243190386</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/blogger/2929/1547/1600/Taiwan2.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-16339653.post-112795343563702502</id><published>2005-09-29T08:18:00.000+08:00</published><updated>2005-10-01T11:18:12.880+08:00</updated><title type='text'>Setetes Embun..</title><content type='html'>&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Ntah kebetulan belaka.. ntah merupakan jawaban , ntah merupakan harapan, ntah hanya fatamorgana belaka. Setelah sebelumnya kulukiskan keputusasaan ku melihat degradasi bangsa ini (Korupsi oh korupsi, 13 September 2005), perlahan-lahan kurasakan adanya setitik harapan. Setitik harapan, setetes embun di tengah kehausan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Mereka,&lt;br /&gt;perwira-perwira muda itu,&lt;br /&gt;berseragam polisi….., tetapi bukan “seragam” polisi yang dulu&lt;br /&gt;Berwenang, tidak sewenang-wenang,&lt;br /&gt;Berpeluang, tapi tak menumpuk uang..&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Merekalah, generasi baru perwira muda POLRI yang memiliki komitment , cita-cita , visi yang sama, untuk mengembalikan POLRI sebagai pelindung dan penegak hukum bangsa. Melindungi and Melayani, begitu mottonya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka, di awal 30 tahun usia mereka , banyak ‘prestasi’ yang cukup menjanjikan pada kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merekalah yang berani mempertaruhkan karir mereka membuka aib borok borok di tubuh Polri, di bahas dalam kajian ilmiah. Dikemukakan untuk jadi bahan perbaikan. &lt;/span&gt;&lt;a href="http://geocities.com/hukum_indonesia/ptik.html"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;http://geocities.com/hukum_indonesia/ptik.html&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Mereka jugalah yang berada di balik pembongkaran kasus kasus penyelundupan BBM baru-baru ini, di Lawi-lawi, di Batam ataupun Cilacap, di tempat-tempat lainnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka jugalah motor penggerak mesin KPK dalam memberantas Korupsi,&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Mereka.. mereka... mereka..&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Keberadaan mereka bukanlah datang tiba tiba atau kebetulan belaka. Mereka telah dikumpulkam, dipersiapkan, direncanakan dan diarahkan jauh jauh hari sebelumnya. 15 tahun yang lalu, diusia belia mereka (15-16 tahun), mereka rela meninggalkan segala bentuk kemanjaan, kemewahan tinggal bersama keluarga. &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Di saat remaja lainnya bermanja-manja ria bersama ayah, bunda, aa, teteh, oom, tante, mereka memilih untuk menggembleng diri di sebuah institusi yang banyak orang-orang bilang sebagai sekolah semi militer:&gt;SMU Taruna Nusantara-Magelang.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Sekolah dimana seluruh muridnya harus tinggal di asrama, sekolah di mana selama 3 bulan pertama tidak boleh menerima kunjungan dari siapapun-tidak boleh keluar ke manapun, sekolah dimana kegiatan di mulai pukul 05.05 pagi: sholat shubuh, lari pagi, senam pagi, dan diaakhiri apel di malam hari pukul 22.00. Sekolah yang tidak hanya mementingkan aspek akademis, tapi juga mengutamakan aspek kesamaptaan jasmani dan kepribadian ( &lt;a href="http://taruna-nusantara-mgl.sch.id/"&gt;http://taruna-nusantara-mgl.sch.id/&lt;/a&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;“KAMPUS SMA TARUNA NUSANTARA”&lt;br /&gt;Dipersembahkan untuk masa depan bangsa dan negara&lt;br /&gt;Magelang, 14 July 1990&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Begitu bunyi yang terpatri dalam prasasti pendirian sekolah ini. Tampaknya “persembahan” itu, tidak sia-sia. Sedikit demi sedkit bangsa ini merasakan darma bakti alumni-alumni sekolah ini (&lt;a href="http://www.ikastara.org/"&gt;http://www.ikastara.org/&lt;/a&gt;) . “Mereka”, Mereka yang kukemukaan di awal tulisan ini tak lain adalah Alumni-alumni sekolah ini yang memilih POLRI sebagai tempat pengabdian mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan masih panjang, tidak sedikit hambatan dan godaan yang akan mereka hadapi &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Akankah candu korupsi menggoda mereka di kemudian hari?&lt;br /&gt;Akankah mereka akan mengikuti senior-senior mereka?&lt;br /&gt;menumpuk harta ratusan milyar bahkan trilyunan? Akankah?&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Walllahualam&lt;/em&gt;… Tak ada yang tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, setidaknya, kita boleh berharap pada mereka dari apa yang telah mereka tunjukkan sampai saat ini&lt;br /&gt;Di surat-surat elektronik yang mereka kirimkan, Kerap kali mereka berbagi cerita, berbagi pandangan, keprihatinan, kekhawatiran, “kegemasan” yang sama pada korupsi yang merongrong bangsa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Mereka..&lt;/em&gt; memiiki cita-cita yang sama dengan kita. Cita-cita untuk mengembalikan kejayaan bangsa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ahh..&lt;/em&gt; semoga mereka tidak berubah. Tetap memiliki komitmen dan kejujuran yang sama di saat bintang-bintang bertaburan di bahu mereka nantinya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Semoga.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;em&gt;Taipei, 29 September 2005&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/16339653-112795343563702502?l=mahendrahariyanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mahendrahariyanto.blogspot.com/feeds/112795343563702502/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=16339653&amp;postID=112795343563702502' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/16339653/posts/default/112795343563702502'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/16339653/posts/default/112795343563702502'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mahendrahariyanto.blogspot.com/2005/09/setetes-embun_29.html' title='Setetes Embun..'/><author><name>Mahendra_Hariyanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14146151298243190386</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/blogger/2929/1547/1600/Taiwan2.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-16339653.post-112660899696524459</id><published>2005-09-13T18:54:00.000+08:00</published><updated>2005-10-24T16:24:59.323+08:00</updated><title type='text'>Korupsi.. Oh Korupsi</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Terdengar lagi berita korupsi.. kali ini berkaitan dengan penyelundupan minyak besar-besaran, nggak tanggung-tanggung, kerugian negara mencapai 8 Trillion rupiah. Dan kali ini, pelakunya juga melibatkan “wong cilik” : Juru masak, Juru Mudi, pekerja kontrak, yang tertinggi hanyalah kepala jaga. Jadi, korupsi tidak lagi “exclusive” buat para penggede saja, tapi juga sudah “down to earth”, juga dilakukan di kalangan “wong cilik”. (http://kompas.com/utama/news/0509/09/152704.htm)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu, Setiap kali saya mendengar berita terungkapnya kasus korupsi, reaksi saya adalah: marah, geram, sebal, menghujat, mencibir, dll.. dll. Waktu mahasiswa dulu, begitu fasihnya lidah ini meneriakkan hujatan-hujatan seperti : “Gantung Koruptor!!!, Hukum mati koruptor!!!” dsb dsb. Sekarang, lidah terasa kelu, tak terucap lagi hujatan-hujatan seperti dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Why?&lt;br /&gt;Setelah ratusan kasus korupsi terungkap di negeri ini seperti :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;KPU yang anggotanya telah diseleksi secara ketat, dan diisi oleh orang-orang yang (katanya) memiliki “integritas” tinggi, seperti: Akademisi, aktivis LSM, mantan aktivis Mahasiswa, pemimpin “grass root”, dll, terjebak dalam skandal dugaan korupsi kolektif di lembaga tersebut &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Depag, yang seharusnya diis oleh orang-orang beragama, Mantan menteri nya malah diduga terlibat kejahatan korupsi besar-besar an. &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Angkatan 45, angkatan 66 bahkan angkatan 98, yang disaat-saat negara dalam keadaan bahaya “rela” mempertaruhkan nyawa mereka, tapi di saat kekuasaan ada di tangan mereka, tidak sedikit diantara mereka yang menghadapi tuduhan-tuduhan kasus korupsi. &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Anggota DPRD sumbar (mantan), didakwa telah melakukan korupsi kolektif&lt;br /&gt;dlll… dll&lt;br /&gt;dll…. dll… dll….. &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;muncul keraguan di benak saya: Jangan-jangan yang membedakan saya yang tidak pernah korupsi, dengan Para koruptor itu hanyalah : mereka (Para koruptor) punya kesempatan untuk melakukan korupsi, sementara saya tidak/ belum ada kesempatan untuk melakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana tidak? Jika orang-orang terpilih seperti mereka-mereka yang disebutkan di atas mudah sekali terpeleset dalam perbuatan korupsi, Apalagi saya? saya orang biasa-biasa saja yang belum terbukti integritas nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu saya berpikir, masalah Korupsi di Indonesia disebabkan oleh systemnya yang tidak sempurna. Sistem sentralisai otoriter yang di desain order baru memberi peluang luas bagi entity di dalam system tersebut untuk melakukan korupsi. Yang saya bayangkan waktu itu, sistem pemerintahan kita bagaikan sebuah kotak hitam, dimana di dalamnya terdapat sebuah proses misterius yang akan selalu menghasilkan suatu "output" yang korup, apapun inputnya. Tak peduli apakah dari angkatan 45, angkatan 66, tokoh tokoh agama, pemuka masyarakat, pemuka-pemuka adat, dsb, darimanapun mereka berasal, begitu mereka menjadi input kedalam kotak hitam sistem pemerintahan tersebut, outputnya adalah sama : Pemerintahan Yang KORUP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, pemikiran saya jauh berbeda. Jatuhnya orde baru dan dimulainya orde reformasi, sempat memberikan secercah harapan. Harapan untuk membongkar dan mengganti "Kotak hitam" sistem pemerintahan kita, dengan "kotak yang lebih transparan", yang memiliki akuntabilitas yang tinggi .&lt;br /&gt;Reformasi system pemerintahan/ kenegaraan kita, dari sudut pandang demokrasi, telah banyak memberikan kemajuan yang signifikan. System pemerintahan sudah bayak direformasi, keterwakilan rakyat di seluruh tingkat pemerintahan baik pusat dan daerah sudah banyak diakomodasi, kekekuasan sudah didesentralisai, kebebasan pers sebagai bagian kontrol masyarakat sudah dilindingi, aparat penegak hukum, dan lembaga perwakilan rakyat juga sudah diberakan peran pengawasn yang lebih kuat. Tetapi, tetap saja korupsi tetap saja terjadi di mana-mana, apa yang Salah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyan ini telah menggiring saya pada suatu jawaban yang cukup “mengerikan”. Jawaban yang sangat-sangat tidak saya inginkan, yaitu: penyebabn korupsi yang sebenarnya ternyata bukanlah pada “system’-nya ” itu sendiri, tetapi terletak pada “input” yang masuk ke dalam system pemerintahan tersebut. Ya “input”. “Input” di sini adalah kita, kita semua masyarakat Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang yang ada berada di dalam system pemerintahaan adalah representasi dari kita, masyarakat Indonesia.. Kalau mereka korup, itu adalah cerminan masyarakat kita, masyarakat Indonesia yang korup.&lt;br /&gt;Jadi, Bedanya kita dengan para koruptor itu hanyalah: mereka punya kesempatan untuk melakukannya, sementara kita tidak. Itu saja bedanya!!!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemikiran ini membuat saya harus menarik hipotesa awal saya yang menduga “ada yang tidak beres dengan systemnya”. Hipotesa saya yang baru adalah : yang tidak beres justru “Input”nya. Jadi, sebagus apapun system pemerintahan kita di desain/ diperbaiki, selama inputnya diambil dari masyarakat Indonesia generasi saat ini, outcome yang di hasilkan tetap sama, yaitu : KORUP!!!!.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penutup&lt;br /&gt;Yah, tulisan di atas cukup provokatif, sebenarnya saya cuma ingin membangkitkan kesadaran kita semua generasi muda, bahwa kita perlu menyiapkan diri tidak hanya dengan pengetahuan dan keterampilan tapi juga perlu mengasah dan menjaga integritas kita sebagai generasi penerus. Sehingga, pada saatnya kita mengambil alih estafet kepemimpinan dari generasi yang lebih tua, kita akan lebih memiliki ketahanan diri menghadapi segala macam “godaan” dan tantangan di masa depan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;em&gt;Taipei, 13 September 2005&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/16339653-112660899696524459?l=mahendrahariyanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mahendrahariyanto.blogspot.com/feeds/112660899696524459/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=16339653&amp;postID=112660899696524459' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/16339653/posts/default/112660899696524459'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/16339653/posts/default/112660899696524459'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mahendrahariyanto.blogspot.com/2005/09/korupsi-oh-korupsi.html' title='Korupsi.. Oh Korupsi'/><author><name>Mahendra_Hariyanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14146151298243190386</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/blogger/2929/1547/1600/Taiwan2.jpg'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-16339653.post-112589763460998832</id><published>2005-09-05T13:20:00.000+08:00</published><updated>2005-10-13T08:32:16.370+08:00</updated><title type='text'>AKU</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;AKU&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/2929/1547/1600/Me5.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 160px; CURSOR: hand; HEIGHT: 253px" height="253" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/2929/1547/320/Me5.jpg" width="128" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Aku anak ke tiga dari empat bersaudara, dilahirkan 30 tahun yang lalu di kota Palembang. Kota yang terkenal dengan “mpek-mpeknya”, pempek-makanan kegemaranku.&lt;br /&gt;Namaku kecilku Heri, Mahendra Hariyanto lengkapnya. Tahu artinya apa? Mahendra berasal dari dua kata Maha dan Indra. Maha berarti besar Indra, bisa berarti dewa, atau bisa juga berarti raja. Sedangkan Hariyanto bermakna bijaksana. Jadi, secara keseluruhan Mahendra Hariyanto bermakna: Raja besar yang bijaksana.. hmm.. nama yang cukup “berat” sebenarnya.&lt;br /&gt;Apakah kelak ku kan menjadi seorang Raja Besar ? Tak tahu. Tapi pertanda “Kebesaran” –ku sudah mulai terlihat, semakin hari perutku semakin besar, tidak hanya di bagian depan, tetapi juga dibagian kiri dan kanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapakku Jawa, Ibuku Palembang. Bapakku berkulit gelap, ibuku berkulit terang, putih halus seperti kulit wanita Cina. Lalu Bagaimana denganku? Aku? Aku kadang-kadang gelap.. kadang kadang terang. Gelap kalau habis berenang, terang kalau habis gajian. Tergantung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;20-25 tahun yang lalu, Waktu ku kecil, pernah kubertanya pada nenekku, sambil menunjukkan tahi lalat di kaki kiriku:&lt;br /&gt;“Nek –nenek, lihat nek, aku punya tahi lalat di telapak kakiku. Artinya apa nek?” tanyaku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nenekku yang sedang sibuk membaca catatan-catatannya tak mengacuhkan pertanyanku..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bergegas mendekati nenekku, dan sejerus kemudian kupamerkan telapak kaki di depan hidung nenekku, tepat diatas buku catatan yang sedang dibacanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nenekku mungkin kesal dengan kelakuanku, selepas menghela napas panjang dia menjawab sekenanya:&lt;br /&gt;“itu artinya nanti kamu akan selalu berkelana jauh…”&lt;br /&gt;“betul nek?” sahutku&lt;br /&gt;‘ iya – iya betul….’ Jawab nenekku acuh sambil menyingkirkan telapak kakiku yang bau itu dari hadapannya dan melanjutkan membaca buku catatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Percakapan singkat 20 – 25 tahun yang lalu itu, masih kuingat sampai sekarang.&lt;br /&gt;Mau tahu kenapa? Karena apa yang dibilang nenekku itu benar adanya.&lt;br /&gt;Lihatlah sejarah sekolah/ tempat kerjaku: Lahir di Palembang, TK di Lampung, SD Di Lahat (Sumsel), SMP Di Lampung lagi, SMU di Magelang, Kuliah di Bandung. Pekerjaan pertama di Batam, kerjaan ke dua di Jakarta, kerjaan ke tiga di Bangkok, kerjaan ke empat (sekarang) di Singapore. Dan kerjaanku sekarang ini banyak menuntutku untuk berpergian jauh. Tahun ini, 6 bulan di Taipei, th depan 6 bulan di Jepang, th 2007 Korea, th 2008 New Zealand, terakhir th 2009 Indonesia… akh.. akhirnya pulang juga ke tanah airku yang ku cinta. “Di sanaaaa tempat lahir beta”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;You See? Nenekku sakti juga kan? Jawaban ala kadarnya 25 tahun yang lalu telah menjadi kenyataan adanya.&lt;br /&gt;Orang dulu sakti-sakti ya? Makanya.. buat kita-2 yang muda-2 jangan sekali kali tidak sopan dengan orang-orang yang lebih tua. Doa atau kutukan mereka mujarab menjadi kenyataan. Nggak percaya? Lihat aja tuh Si Malin Kundang yang jadi batu, or si Tumang yang jadi tangkuban perahu. Mau jadi kayak mereka?&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Eitts…&lt;/em&gt; jangan dipikir kutukan-kutukan seperti itu tidak ada lagi di jaman sekarang ini. Mau bukti? Lihatlah politisi-politisi kita saat ini, banyak sekali diantara mereka yang “berkepala batu”, mereka semua pastilah telah mendapat kutukan seperti si Malin Kundang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;PERNIKAHANKU&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Pernikahan adalah sebuah ‘keputusan yang besar’ dalam kehidupan kita. Aku menikah 14 Maret 2004, tepat 2 minggu sebelum kepindahanku ke Bangkok. Kuingat, dihari hari menjelang prnikahanku perasaan bercampur aduk: exciting, anxious dan juga nervous&lt;br /&gt;Berikut, petikan surat “curhatan’ ku sekaligus undangan pernikahanku yang kukirimkan pada temanteman ku 2 minggu sebelum pernikahanku.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;From: Mahendra Hariyanto &lt;mahendra.hariyanto@...&gt;Date: &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Wed Mar 3, 2004 1:25 am S&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;ubject: Undangan...&lt;br /&gt;mahendra.hariyanto@... &lt;/em&gt;&lt;a title="Send Email" href="http://groups.yahoo.com/group/tn-1/post?postID=A_zj65-_YBL1MuSwoaccaV3KNcCA3zb0Lb1FY92McKPhqtP8o2ifhVu_2RFAP99YzJI9cbBORqqd5ZAE5KYlauWuY-y20kOznyYq4R6sFX1KxNroVwHWDKXiKhk"&gt;&lt;em&gt;Send Email&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Temans,&lt;br /&gt;Tahu nggak sih... beberapa hari terakhir aku "nervous" banget.... kalau temen-temen bisa denger suara Jantungku kira-kira bunyinya gini : "dug.... dug... dug-dug.... dug... dug.... dug-dug...." makin lama, iramanya makin cepat dan rapat "dugdug-dugdug-dugdug"... begitulah bunyinya... mudah-2 an hari-hari ke depan aku nggak kebanyakan minum kopi, sehingga bunyi "dug-dug" itu tidak berubah menjadi tiiiitttttt..... (itu lho yang kayak di film, kalau orang sekarat di RS and ketemu malaikat... terus bunyi monitor nya... tiiiiiittttt).&lt;br /&gt;Kenapa nervous? Yah itu... ada dua hal besar yang sebentar lagi akan ku hadapi, Pertama: menikah dan kedua: langsung pindah ke negara lain.. Saking nervous-nya aku minta nasihat ke pak de ku yang kebetulan pensiunan tentara: "Pak De, saat-saat in saya merasakan beban yang sangat berat, saya merasa seperti akan terjun ke medan tempur yang saya sama sekali tidak tahu bagaimana medannya, siapa yang harus saya hadapi, seberapa besar "misi" yang harus diemban.... dan lebih parah lagi, pertempuran itu harus dihadapi dengan "beban tanggung jawab" yang lebih besar, yaitu: istri yang harus juga saya selamatkan dari medan pertempuran itu"...&lt;br /&gt;Pak de ku tersenyum mendengar curhat ku, sedetik kemudian meluncur kata-kata bijak Pak De ku: "Heri, Pak de pernah merasakan apa yang kamu rasa. Sebagai tentara, Pak de sering ditugaskan ke-daerah2 yang Pak de tidak tahu. Yang membuat Pak de bisa melewati semuanya justru karena adanya kehadiran "Bu de" mu ini yang selalu men-support Pak de melewati masa-masa sulit. Jadi nak, janganlah sekali-kali menganggap istrimu adalah beban tanggung jawab dalam menjalani kehidupan... tapi anggaplah dia sebagai Partner yang bisa membantu kamu dan keluargamu melewati semua beban itu "&lt;br /&gt;Sebuah nasihat singkat... tapi cukup dapat merubah tempo irama detak jantungku menjadi normal kembali....(dug-dug) kuteringat senyum Elisa yang lembut akan selalu menghiasi hari-hari ku, kesabarannya yang tulus akan meluruhkan "ke-ngeyel-an ku", juga kesetiannya akan memberikan ketenangan batin ku dalam menghadapi segala "cobaan" (kata orang, di Bangkok banyak 'cobaan' keduniawian).&lt;br /&gt;Sepulang dari rumah "Pak De", ingin rasanya ku bertemu Elisa-pacarku, berlutut dan berucap untuk ke dua kalinya : "Elisa, maukah kau menikah denganku?........"&lt;br /&gt;Teman-teman bisa menebak kira-kira apa jawaban Elisa ? Untuk memastikannya: teman-teman diundang untuk hadir dan menyaksikan secara langsung acara kami berdua yang diadakan pada hari/tanggal/ jam sbb: &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;Minggu 14 Maret 2004, 11.00 - 13.00 &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Lokasi: Masjid Darul Hikam, &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Jatiwaringin, Antilop, Pondok Gede - Bekasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Regards &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Mahendra Hariyanto&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;ISTRIKU&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/2929/1547/1600/My_beloved_wife_2.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;img style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 152px; CURSOR: hand; HEIGHT: 228px" height="242" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/2929/1547/320/My_beloved_wife_2.jpg" width="169" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Istriku cantik sekali tidak hanya “luarnya” tapi juga “dalamnya”. Namanya Elisa, tapi dia kerap kupanggil “Cinta”. Tahu kenapa dia kupanggil “Cinta”? Kubilang padanya kalau dia mengingatkanku pada tokoh “Cinta” dalam film “Ada Apa Dengan Cinta”.&lt;br /&gt;“Gombal!!”&lt;br /&gt;“Masak aku disamain sama “Dian Sastro”? Jauh bangeettt!!!” komentar istriku&lt;br /&gt;“ Kamu benar cinta, kamu memang ‘Jauh banget’ dari Dian Sastro… Jauh lebih Cantik”. Jawabku tulus&lt;br /&gt;“Gombaalllll!!!!!!” sekali lagi kata-kata itu keluar dari mulut istriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah percakapanku dengan istriku , tepat sekitar 9 bulan 10 hari sebelum kelahiran anak pertamaku.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;ANAKKU&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/2929/1547/1600/Feroze_passport.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 132px; CURSOR: hand; HEIGHT: 167px" height="251" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/2929/1547/320/Feroze_passport.jpg" width="206" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Anakku lahir di Bangkok, 2 Desember 2004. Kunamai dia FEROZE SHAQUILLE HARIYANTO. Sebuah nama Persia. FEROZE berarti Sukses, Shaquille berarti “Ganteng”, sedangkan “Hariyanto” adalah nama belakangku yang dalam bahasa jawa kuno dapat diartika “Bijaksana”. Jadi FEROZE SHAQUILLE HARIYANTO berarti Sukses, Ganteng dan Bijaksana. Lagi-lagi, “nama yang berat” sebenarnya. Itulah nama yang kupilih. Nama yang juga berarti doa dan harapanku seperti apa dia nanntinya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada kejadian menarik. Sekitar 2 bulan sebelum kelahiran anakku, aku bermimpi didatangi oleh seorang biksu tua. Dalam mimpiku, seolah-olah aku terbangun dan mendapati seorang biksu tua telah berdiri di samping tempat tidurku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ku titipkan ini Padamu” Ucap si biksu tua seraya menyerah kan sebuah benda ke dalam gengganman tangan kananku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ku buka perrlahan-lahan genggaman tangan ku dan kudapati sebuah lonceng emas kecil dengan bendera Thailand terikat padanya. Tak ada kata yang terucap dariku, ku kepalkan kembali genggamanku kuat-kuat, sebgai tanda persetujuanku menjaga “si lonceng emas kecil” yang dititipkan kepadaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mimpi itu begitu nyata, seolah oleh aku tidak bermimpi. Pada saat ku terjaga, kudapati tangan kananku masih mengepal kuat, seloah olah masih menjaga si lonceng emas dalam genggamanku. Kubuka perlahan-lahan genggamanku dan kudapati genggamanku kosong.. tak ada lonceng emas di sana.&lt;br /&gt;“Ahh.. ternyata Cuma mimpi”. Mimpi yang begitu nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mimpi hanyalah bunga tidur.. tapi mimpi yang ini begitu nyata. Esok harinya kuceritakan mimpi ku pada istriku..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“mungkin lonceng emas kecil dalam mimpimu adalah perlambang anak kita yang akan segera lahir, dan si Biksu adalah perlambang dari Yang Maha Kuasa”, begitu komentar istriku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah.. mugnkin istriku benar adanya . Anak adalah titipan Allah ke pada kita. Akan ku jaga titipan itu sebaik-baiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada satu hal yang menggelitik dari mimpiku.. kenapa yang datang padaku dalam mimpiku justru seorang Biksu? Bukan seorang Kiai atau seorang wali atau “Aa Gym”, orang-orang terhormat umat Muslim, sesuai agama yang kupeluk? Akh.. mimpi hanyalah bunga tidur…. Tak jadi soal siapa yang “mengantarkan” pesan. Yang perlu diperhatikan adalah esensi dari pesan yang disampaikan. Pesan untuk membesarkan dan menjaga anakku… Anakku…. si Lonceng Emas dari Thailand.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Singapore,&lt;br /&gt;5 September 2005.http://mahendrahariyanto.blogspot.com/&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/16339653-112589763460998832?l=mahendrahariyanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mahendrahariyanto.blogspot.com/feeds/112589763460998832/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=16339653&amp;postID=112589763460998832' title='19 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/16339653/posts/default/112589763460998832'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/16339653/posts/default/112589763460998832'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mahendrahariyanto.blogspot.com/2005/09/aku.html' title='AKU'/><author><name>Mahendra_Hariyanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14146151298243190386</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/blogger/2929/1547/1600/Taiwan2.jpg'/></author><thr:total>19</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-16339653.post-112596782365135759</id><published>2005-04-28T08:28:00.001+08:00</published><updated>2008-10-23T21:17:13.837+08:00</updated><title type='text'>CERITA DARI INDIA</title><content type='html'>Sekedar berbagi cerita kesan-kesan gue tentang Mumbai, yang gue kunjungi 10 - 17 April 2005.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;CERITA DARI INDIA&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/2929/1547/1600/Di_pusat_kota2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px 10px 10px 0px; float: left;" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/2929/1547/320/Di_pusat_kota2.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Dulu, waktu gue masih kerja di Bangkok.. ada issue IT Support Center tempat gue kerja akan dipindahkan ke India. Waktu denger issue itu sih gue nyantai aja… kalaupun emang iya, palingan gue juga dipindahin ke India.. So, what is the big deal?&lt;br /&gt;Itu dulu.. sebelum gue “personally ke mengunjungi India. Coba kalau issue itu gue denger setelah Gue mengunjungi “Bombay/ Mumbai”,( yang katanya kota terbsear di India), mungkin yang terjadi adalah gue pasti akan ikut-2 an panik, underpressure, rambut rontok dan ketombean …. Karena, gue tahu persis gue nggak akan bisa survive lama2 di India.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segitu jeleknya ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ok, gue akan cerita sedikit pengalaman berkunjung ke India:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;International Airport – Mumbai&lt;br /&gt;gue + temen2 kantor dari SGP dan Jepang) sampai di mumbai tengah malam. Baru aja keluar dari pesawat, gue mulai merasakan tangan gue “gatal”-gatall di gigit nyamuk… kebayang kan dia airport aja banyak nyamuk ..&lt;br /&gt;Airport Soekarno Hatta yang selama ini tidak begitu membaggakan, masih jauh lebih baik daripada Mumbai International Airport. Anyway, Gue jadi seneng, setelah mengunjungi beberapa negara, akhirnya gue menemukan juga ada intenational Airport yang lebih jelek daripada cengkareng… akh betapa senangnya…. Moral nasionalisme dan rasa bangga sebagai sebagai bangsa Indonesia gue semakin menggelora (Mengingat Airport di Indonesia ternyata bukanlah Airport terjelek di Asia). Merdeka!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Perjalanan Airport – Hotel.&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Setelah sektiar 40 menit gatal-2 digigitin Nyamuk di Airport .. akhirnya selesai juga segala macam urusan bagasi dan custom, dan kita2 keluar airport. Suasana di luar Airport (arial penjemputan dan parkir) tidak kalah jeleknya dibandingkan Susana di dalam Airport… berdebu, bau, tidak bersih dan banyak sekali orang India-nya (heran)…. Yah kalau boleh gue gambarkan, suasana areal parkilnya mirip dengan suasana areal parkir Stasiun Jatinegara (kebayang kan?)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah tingak tinguk” kiri kanan ketemu juga yang jemput dr hotel JW Ma’ errot. Pelayanan penjemputan JW Ma’ Errot asyik punya: mewah dan besar2 (mobilnya). Untuk menjemput kami berlima di siapkan 5 mobil sedan CAMRY terbaru (1 orang 1 mobil) lengkap dengan sopir berseragam “sopir” yang rapi. Mmmm….&lt;br /&gt;Tapi, Walaupun telah desiadiakan 1 mobil untuk 1 orang, untuk praktisnya, kami hanya minta 2 mobil untuk mengantar kami berlima).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan dari Airport ke Hotel ditempuh dalam waktu sekitar 30-40 menit. Dari Bandara ke hotel pemandangannya cukup mengharukan. Jalan-2 nya masih banyak yang berlubang (emang sdang diperbaiki sih), Terus, di kiri kanan jalan, yang keliatan adalah rumah-2/ apartement yang kotor dan berdebu…dan diberapa tempat di beberapa lokasi, banyak pemukiman kumuh.&lt;br /&gt;Dibandingkan dengan Jakarta , mending ke mana2 (walaupun di Jakarta banyak juga perumahan kumuh-nya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hotel : JW Ma’ Errot&lt;br /&gt;Suasana di Dalam Hotel&lt;br /&gt;Hotel yang desidakan bagus banget : JW Marriot mumbai&lt;br /&gt;http://marriott.com/property/viewallphotos/bomjw?WT_Ref=mi_left&lt;br /&gt;Hotel nya terletak di pinggir pantai (Juhu Beach) yang menghadap langsung ke Samudera Arabia.. So, pemandangan dari kamar hotel sangat2 fantastic.&lt;br /&gt;Berbatasan dengan pantai, terbentang kolam renang yang Ok punya, Jadi kalau Bosen ngeliatin pantai dan laut yang begitu-2 aja… kita tinggal mengalihkan pandangan ke kolam renang. Di jamin nggak bosen…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Suasana di Luar Hotel..&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Beda banget dengan suasana di lingkungan hotel suasana di luar hotel kira-2 seperti suasana Cililitan – kramat Jati sebelum dibangung cililitan Mall.Kontras Banget.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kolega dari India.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Menurut boss gue (yang juga orang India), orang India itu bisa dibilang agak2 keras kepala. kalau seseorang disuruh melakukan sesuatu, pertanyaan pertama yang keluar adalah Why? (why should I do this), ok. Setelah kita cape-2 nerangin alasan dan latar belakangnya…. Si orang India ini akan mikir gimana caranya supaya bisa melakukan yang kita minta itu dengan caranya sendiri. Jadi intinya mereka nggak mau disuruh2 …....&lt;br /&gt;Gue jadi ngerti sekarang.. dulu waktu masih di Bangkok, gue sempet ditugasin untuk pegang “Report development” project buat Siemen China. Untuk bikin Spec nya gue mesti ngadain workshop 2 minggu di Shanghai, yang mana dalam 2 minggu workshop itu kita sudah banyak adu argumentasi / diskusi . Nah setelah specnya jadi, bayangan gue gue tinggal kasih ke programmer dan programmer tinggal ngerjain apa yang gue minta. Eh.. ternyata kejadiannya nggak begitu, programmer yang di assign ke gue ternyata dari India,(dgn sifat2 yg telah gue jelasin di atas) so, setelah cape2 workshop 2 minggu di Shanghai, gue mesti ngadain workshop lagi sama si programmer supaya si programmer ini mau ngerjain apa yang gue minta…… Cape.. (makanya, setelah setahun di Bangkok, rambut gue jadi tambah tipis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, justru cara berpikir “ngeyel” dan selalu mikir “alternative way “ kayak di atas yang membuat orang India jadi lebih creative dan cocok buat jadi programmer Cuma jeleknya prosesnya jadi tambah lama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kota Mumbai (Bombay)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ada yang bilang kota mumbai itu kayak Jakarta tahun 70-an. Bener juga sih… Cuma, menurut gue agak2 lebih kotor gitu.&lt;br /&gt;Sebenernya kalau dilihat, bangunan2 nya banyak yang bagus-2. Banyak juga bangunan2 peninggalan Inggris.. Cuma gue herannya nggak dirawat gitu. Jadi keliatan kusam dan kotor.&lt;br /&gt;Temen gue sampe comment gini: Kalau mo buka bisnis di India, buka bisnis Cet (paint) aja, kayanya semua gedung di India belum pernah di Cet ulang dari sejak dibangun,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Di kira orang India:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kalau ke India jangan kaget nama gue ada di mana2.. Soalnya ada salah satu konglomerat di India namanya Mahindra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus... Nggak tahu karena nama gue nama india or mungkin juga karena penampilan gue nggak banyak beda sama Sarukh Khan (tinggal di "gondrongin" dan dikurusin), beberapa kali gue di ajak ngomong bahasa India sama orang sini.&lt;br /&gt;Karena gue nggak ngerti gue jawab nya Cuma "acha... acha..." sambil goyang-2 kepala,,,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Hampir di Hypnotis&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;gue sama temen-2 Jalan-2 ke yang namanya "Gateway India"... nah pas lagi jalan2 gitu ada seorang sahib yang dateng dari arah berlawanan sambil nabur-2 rin butir an sesajen gitu. Yang gue denger sih si Sahib ngomongnua "take this"-2.. nah nggak tahu kenapa gue nganggapnya si Sahib ini bagian dari atraksi wisata di sana, lagi bagi-bagiin butiran2 kembang ke wisatawan. Jadinya begitu dia bilang "take this" gitu, yah gue otomatis menengadahkan tangan gue untuk menerima apa yang mo dia kasih... Begitu tangan gue menengadah, dia langsung meletakkan butiran2 sesajen nya di tangan gue sambil menghitung : one.. two.. three... four... dst. nah selama dia menghitung begitu.. temen gue yang jalan bareng gue berulang kali bila "jangan diambil-jangan diambil!!!!" so.. akhirnya pada hitungan ke 7 (seven).. gue tarik lagi tangan gue dari tangan tuh Sahib and langsung Ngacir..&lt;br /&gt;Si Sahib coba ngejer gue satu dua langkah... tapi gue dan temen gue cepet2 ngacir...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kita jauh dari si Sahib si temen gue nanya ke gue: kenapa gue kasih tangan gue ke tuh Sahib... yah gue cerita aja kalau si sahib berulang kali bilang "take this" dan gue pikir dia itu bagian dari atraksi wisata.. gue juga bilang selama megang tangan gue, si sahib itu menghitung dalam bahasa inggris 1,2 ,3 dst.... And you know what?? komentar temen gue adalah: yang dia dengar selama kejadian itu si sahib sama sekali tidak berbicara bahasa Inggris, yang dia denger si Sahib komat-kamit ngomong bahasa India kaya baca mantra gitu... hiiiii!!!!!! Kalau aja gue sendirian, mungkin gue sudah terhipnotis dan dirampok..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Penutup&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Yah begitulah sekilas cerita dari India.. Point penting yang gue dapet dari India adalah: gue jadi ngerti kenapa sekarang orang India tersebar di mana-2 dan banyak memegang posisi kunci (khususnya IT), diantaranya:&lt;br /&gt;1. selalu berpikir kritis dan alternative (kata lainnya “ngeyel” an)&lt;br /&gt;2. lebih tahan menderita: karena di Indianya sendiri mereka sudah terbiasa hidup dengan infrastructure yang minim …..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segitu dulu ceritanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/2929/1547/1600/Hotel_tajmahal23.JPG"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;img style="margin: 0px 10px 10px 0px; float: left;" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/2929/1547/320/Hotel_tajmahal21.JPG" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Hotel Taj Mahal&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/2929/1547/1600/Gateway_India2.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Best Regards&lt;br /&gt;Mahendra Hariyanto&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/16339653-112596782365135759?l=mahendrahariyanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mahendrahariyanto.blogspot.com/feeds/112596782365135759/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=16339653&amp;postID=112596782365135759' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/16339653/posts/default/112596782365135759'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/16339653/posts/default/112596782365135759'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mahendrahariyanto.blogspot.com/2005/04/cerita-dari-india.html' title='CERITA DARI INDIA'/><author><name>Mahendra_Hariyanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14146151298243190386</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/blogger/2929/1547/1600/Taiwan2.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry></feed>
