Hutang Kita pada Generasi Penerus
Jadi Hakim itu susah,tidak gampang. Hanya orang-orang terpilih ,orang-orang yang mempunyai integritas yang tinggi lah yang layak menjadi hakim.
Kalau tahu jadi hakim itu susah, kita-kita yang bukan hakim, sudah selayaknya untuk tidak gampang menghakimi suatu kejadian atau tindakan yang kita tidak tahu pasti duduk perkaranya. Bisa-bisa kita salah dan jadi berdosa karenanya.
Dalam menjalani kehidupan ini, saya sempat berada di suatu titik yang tidak lagi bisa menghakimi bahwa orang-orang yang dikatakan jahat adalah hina, dan orang-orang yang dikatakan baik adalah mulia. Toh ‘Hina’ dan ‘Mulia’ adalah ukuran yang relatif, ukuran yang keberadaannya saling bergantung pada keberadaanya ukuran lainnya. Begitu pula ‘Baik’ dan ‘Jahat’.
Orang yang dikatakan Mulia sesungguhnya berhutang budi pada orang yang dikatakan Hina. Tanpa keberadaan si Hina, keberadaan si Mulia pun menjadi tak berada. Bukankah kita bisa mengatakan Si Anu Si Ini dan Si itu cantik adalah semata –mata dikarenakan kita membandingkan “kecantikan “Si Anu Si Ini dan Si itu dengan mereka-mereka lainnya yang lebih jelek?
Kalau tidak ada si jelek , apa yang menjadi pembanding kita untuk mengatakan Si Anu Si Ini dan Si itu adalah cantik? Dengan demikian, kalau tidak ada yang jelek berarti tidak ada pula yang cantik.. Bukankah begitu?
Jadi, bagi anda yang merasa cantik berterima kasihlah pada yang jelek-jelek. Hanya karena keberadaan mereka itulah anda-anda ini bisa dibilang cantik.
*
Pada akhirnya, setiap kita di dunia ini memainkan peranan kita masing-masing. Kecoa yang kelihatan menjijikan itu-pun ternyata memainkan peranan penting bagi kehidupan kita di dunia ini.
Entah berapa ribu kepala manusia di dunia ini yang mendapatkan nafkah dari pekerjaannya di pabrik-pabrik / perusahaan-perusahaan yang memproduksi racun anti kecoa.
Punahnya kecoa , berarti pula hilangnya ribuan pekerjaaan dan mata pencaharian bagi ribuan kepala di dunia ini.
Jadi Kecoa punya peran yang penting di dunia ini.
Begitu pula cerita cicak, dan juga buaya. Mereka bersama-sama memainkan perannya dalam suatu drama yang akan dijadikan cerita moral bagi kita, dan juga penerus kita.
Sayangnya. drama cicak dan buaya yang memuncak dikala kita baru saja merayakan hari sumpah pemuda, sesungguhnya adalah sebuah drama tragedy yang sudah terlanjur melukai alam bawah sadar pemuda generasi penerus bangsa kita.
Siapapun yang pada akhirnya menang apakah itu cicak, ataukah itu buaya, pada akhirnya akan menjadi cerita yang berakhir menyedihkan.
Baik cicak ataupun buaya, keduanya adalah diisi oleh orang-orang pilihan, Putra-putri terbaik terpilih bangsa yang diberi amanah untuk menegakkan keadilan di negeri kita tercinta ini.
Jadi, kalaupun nantinya terbukti cicak ada lah yang benar dan buaya adalah yang salah. Tetap saja hal itu akan membuktikan bahwa putra-putri terbaik yang telah dipilih dan dipercaya untuk menegakkan hukum di negeri ini, ternyaya merupakan pelindung pelanggar hukum, pengabai nilai-nilai moral dan etika, pengguna segala cara, untuk menghancurkan sang cicak demi melindungi kepentingan segelintir sekelompok pelanggar hukum.
Sebaliknya, kalau ternyata si buaya-lah yang benar, drama ini akan berakhir dengan pelajaran moral yang lebih menyedihkan lagi. Pelajaran moral yang seoalah-olah memberikan penegasan bahwa bangsa kita adalah bangsa “maling” , bangsa korup. Bagaimana tidak, putra-putri terbaik terpilih yang dipercaya untuk memerangi koruptor malah menjadi koruptor itu sendiri. Kalau saja putra-putri terbaik bangsa ini ternyata begitu rendah moralnya? Bagaimana jadinya dengan moral putra-putri bangsa ini pada umumnya?
Drama Cicak dan buaya adalah suatu drama yang akan membawa kita pada derajad kehinaan yang rendah, jauh lebih rendah lagi.
Sebenarnya, kondisi standard moral bangsa kita secara tidak disadari , sudah dalam keaadaan yang sangat mengkhawatirkan.
Secara tidak sadar,seolah-olah kita telah mengakui bahwa bangsa kita adalah bangsa yang korup . “Pengakuan” itu terlihat di saat kita memberikan penghargaan yang sangat tinggi dan istimewa pada tokoh penegak hukum yang dikenal bersih,yang tidak mau menerima suap dan korupsi… yang kalau dipikir-pikir, bukankah penegak hukum itu memang sudah selayaknya tidak menerima suap dan tidak korupsi”?
*
Saya pribadi, dan juga banyak orang lainnya , menaruh rasa hormat yang sangat-sangat-sangat mendalam pada Pak Hoegeng, mantan Kapolri di akhir tahun 60-an. Pak Hoegeng dikenal sebagia Polisi yang bersih, teguh menegakkan hukum , dan pantang menerima suap. Oleh karena itulah, dia sangat-sangat di hormati oleh kebanyakan orang yang mengetahui riwayat hidupnya.
Kalau dipikir-pikir, mengapa banyak dari kita yang sangat-sangat menghormati pak Hoegeng? Bukankah sebagai seorang Polisi, memang sudah seharusnya Pak Hoegeng teguh menegakkan hukum dan pantang menerima suap? Bukan begitu? Bukankah kita-kita yang menjadi karyawan juga begitu? Sebagai karyawan kita dituntut untuk menjalankan dan menyelesaikan tugas yang sudah menjadi tanggung jawab kita bukan? Lalu apa bedanya kita dengan pak Hoegeng? Mengapa kita harus menempatkan Pak Hoegeng sebagai orang yang sangat istimewa? Toh, dia juga “hanya” menjalankan hal-hal yang sudah menjadi tugas dan tanggung jawabnya.
Seperti yang saya uraikan di awal tulisan ini, Hina dan Mulia adalah dua sisi berlawanan yang saling membutuhkan. Semakin dalam “Kehinaan” yang dipertontonkan pada kita , semakin rendah standard derajad “Kemuliaan” yang akan kita akui bersama.
Jika derajad kehinaan ini terus dibiarkan semakin dalam, bukan tidak mungkin20-30 tahun ke depan, predikat pahlawan bangsa akan kita berikan pada seorang pejabat “koruptor kelas teri” , semata-semata hanya dikarenakan yang bersangkutan merupakan satu-satunya pejabat koruptor kelas teri , sementara ribuan pejabat lainnnya semuanya merupakan koruptor kelas kakap. Jika itu terjadi, pada saat itu, derajat standard “kehinaan” bangsa kita sudah terperosok jauh lebih dalam lagi.
**
Banyak hutang kita pada anak cucu. Tidak hanya sumber daya alam yang kita habisi saat ini, hutang-hutan yang akan kita bebankan pada mereka nantinya, tapi juga derajad “kehinaan” moral yang semakin kita perdalam.
Rasanya terlalu naïf untuk berharap agar mereka-mereka yang di atas sana membaca dan tersentuh dari apa yang saya coba sampaikan dalam tulisan ini.
Tersentuh dan secara sadar akan membangun kembali moral bangsa yang sudah terlanjur terpuruk ini dengan bersama-sama menciptakan pemerintahan yang bersih dan berintegritas tinggi, bukan hanya untuk kemakmuran “materi” bangsa kita di masa kini, namun juga kemakmuran “moral” bangsa kita di masa yang akan dating.
Biar sajalah… tersentuh atau tidak toh setidaknya saya sudah berusaha mengetuk nurani mereka … dengan apa yang bisa saya lakukan….
***
6 November 2009
Mahendra Hariyanto

