Namanya juga uneg-uneg. Ya.. tempat nulis segala macam uneg!!!

Friday, November 06, 2009

Hutang Kita pada Generasi Penerus


Jadi Hakim itu susah,tidak gampang. Hanya orang-orang terpilih ,orang-orang yang mempunyai integritas yang tinggi lah yang layak menjadi hakim.

Kalau tahu jadi hakim itu susah, kita-kita yang bukan hakim, sudah selayaknya untuk tidak gampang menghakimi suatu kejadian atau tindakan yang kita tidak tahu pasti duduk perkaranya. Bisa-bisa kita salah dan jadi berdosa karenanya.

Dalam menjalani kehidupan ini, saya sempat berada di suatu titik yang tidak lagi bisa menghakimi bahwa orang-orang yang dikatakan jahat adalah hina, dan orang-orang yang dikatakan baik adalah mulia. Toh ‘Hina’ dan ‘Mulia’ adalah ukuran yang relatif, ukuran yang keberadaannya saling bergantung pada keberadaanya ukuran lainnya. Begitu pula ‘Baik’ dan ‘Jahat’.

Orang yang dikatakan Mulia sesungguhnya berhutang budi pada orang yang dikatakan Hina. Tanpa keberadaan si Hina, keberadaan si Mulia pun menjadi tak berada. Bukankah kita bisa mengatakan Si Anu Si Ini dan Si itu cantik adalah semata –mata dikarenakan kita membandingkan “kecantikan “Si Anu Si Ini dan Si itu dengan mereka-mereka lainnya yang lebih jelek?

Kalau tidak ada si jelek , apa yang menjadi pembanding kita untuk mengatakan Si Anu Si Ini dan Si itu adalah cantik? Dengan demikian, kalau tidak ada yang jelek berarti tidak ada pula yang cantik.. Bukankah begitu?

Jadi, bagi anda yang merasa cantik berterima kasihlah pada yang jelek-jelek. Hanya karena keberadaan mereka itulah anda-anda ini bisa dibilang cantik.

*
Pada akhirnya, setiap kita di dunia ini memainkan peranan kita masing-masing. Kecoa yang kelihatan menjijikan itu-pun ternyata memainkan peranan penting bagi kehidupan kita di dunia ini.

Entah berapa ribu kepala manusia di dunia ini yang mendapatkan nafkah dari pekerjaannya di pabrik-pabrik / perusahaan-perusahaan yang memproduksi racun anti kecoa.
Punahnya kecoa , berarti pula hilangnya ribuan pekerjaaan dan mata pencaharian bagi ribuan kepala di dunia ini.

Jadi Kecoa punya peran yang penting di dunia ini.
Begitu pula cerita cicak, dan juga buaya. Mereka bersama-sama memainkan perannya dalam suatu drama yang akan dijadikan cerita moral bagi kita, dan juga penerus kita.

Sayangnya. drama cicak dan buaya yang memuncak dikala kita baru saja merayakan hari sumpah pemuda, sesungguhnya adalah sebuah drama tragedy yang sudah terlanjur melukai alam bawah sadar pemuda generasi penerus bangsa kita.

Siapapun yang pada akhirnya menang apakah itu cicak, ataukah itu buaya, pada akhirnya akan menjadi cerita yang berakhir menyedihkan.
Baik cicak ataupun buaya, keduanya adalah diisi oleh orang-orang pilihan, Putra-putri terbaik terpilih bangsa yang diberi amanah untuk menegakkan keadilan di negeri kita tercinta ini.
Jadi, kalaupun nantinya terbukti cicak ada lah yang benar dan buaya adalah yang salah. Tetap saja hal itu akan membuktikan bahwa putra-putri terbaik yang telah dipilih dan dipercaya untuk menegakkan hukum di negeri ini, ternyaya merupakan pelindung pelanggar hukum, pengabai nilai-nilai moral dan etika, pengguna segala cara, untuk menghancurkan sang cicak demi melindungi kepentingan segelintir sekelompok pelanggar hukum.

Sebaliknya, kalau ternyata si buaya-lah yang benar, drama ini akan berakhir dengan pelajaran moral yang lebih menyedihkan lagi. Pelajaran moral yang seoalah-olah memberikan penegasan bahwa bangsa kita adalah bangsa “maling” , bangsa korup. Bagaimana tidak, putra-putri terbaik terpilih yang dipercaya untuk memerangi koruptor malah menjadi koruptor itu sendiri. Kalau saja putra-putri terbaik bangsa ini ternyata begitu rendah moralnya? Bagaimana jadinya dengan moral putra-putri bangsa ini pada umumnya?

Drama Cicak dan buaya adalah suatu drama yang akan membawa kita pada derajad kehinaan yang rendah, jauh lebih rendah lagi.

Sebenarnya, kondisi standard moral bangsa kita secara tidak disadari , sudah dalam keaadaan yang sangat mengkhawatirkan.

Secara tidak sadar,seolah-olah kita telah mengakui bahwa bangsa kita adalah bangsa yang korup . “Pengakuan” itu terlihat di saat kita memberikan penghargaan yang sangat tinggi dan istimewa pada tokoh penegak hukum yang dikenal bersih,yang tidak mau menerima suap dan korupsi… yang kalau dipikir-pikir, bukankah penegak hukum itu memang sudah selayaknya tidak menerima suap dan tidak korupsi”?

*

Saya pribadi, dan juga banyak orang lainnya , menaruh rasa hormat yang sangat-sangat-sangat mendalam pada Pak Hoegeng, mantan Kapolri di akhir tahun 60-an. Pak Hoegeng dikenal sebagia Polisi yang bersih, teguh menegakkan hukum , dan pantang menerima suap. Oleh karena itulah, dia sangat-sangat di hormati oleh kebanyakan orang yang mengetahui riwayat hidupnya.

Kalau dipikir-pikir, mengapa banyak dari kita yang sangat-sangat menghormati pak Hoegeng? Bukankah sebagai seorang Polisi, memang sudah seharusnya Pak Hoegeng teguh menegakkan hukum dan pantang menerima suap? Bukan begitu? Bukankah kita-kita yang menjadi karyawan juga begitu? Sebagai karyawan kita dituntut untuk menjalankan dan menyelesaikan tugas yang sudah menjadi tanggung jawab kita bukan? Lalu apa bedanya kita dengan pak Hoegeng? Mengapa kita harus menempatkan Pak Hoegeng sebagai orang yang sangat istimewa? Toh, dia juga “hanya” menjalankan hal-hal yang sudah menjadi tugas dan tanggung jawabnya.

Seperti yang saya uraikan di awal tulisan ini, Hina dan Mulia adalah dua sisi berlawanan yang saling membutuhkan. Semakin dalam “Kehinaan” yang dipertontonkan pada kita , semakin rendah standard derajad “Kemuliaan” yang akan kita akui bersama.

Jika derajad kehinaan ini terus dibiarkan semakin dalam, bukan tidak mungkin20-30 tahun ke depan, predikat pahlawan bangsa akan kita berikan pada seorang pejabat “koruptor kelas teri” , semata-semata hanya dikarenakan yang bersangkutan merupakan satu-satunya pejabat koruptor kelas teri , sementara ribuan pejabat lainnnya semuanya merupakan koruptor kelas kakap. Jika itu terjadi, pada saat itu, derajat standard “kehinaan” bangsa kita sudah terperosok jauh lebih dalam lagi.

**

Banyak hutang kita pada anak cucu. Tidak hanya sumber daya alam yang kita habisi saat ini, hutang-hutan yang akan kita bebankan pada mereka nantinya, tapi juga derajad “kehinaan” moral yang semakin kita perdalam.

Rasanya terlalu naïf untuk berharap agar mereka-mereka yang di atas sana membaca dan tersentuh dari apa yang saya coba sampaikan dalam tulisan ini.
Tersentuh dan secara sadar akan membangun kembali moral bangsa yang sudah terlanjur terpuruk ini dengan bersama-sama menciptakan pemerintahan yang bersih dan berintegritas tinggi, bukan hanya untuk kemakmuran “materi” bangsa kita di masa kini, namun juga kemakmuran “moral” bangsa kita di masa yang akan dating.


Biar sajalah… tersentuh atau tidak toh setidaknya saya sudah berusaha mengetuk nurani mereka … dengan apa yang bisa saya lakukan….
***
6 November 2009
Mahendra Hariyanto

Wednesday, September 16, 2009

Etika

Seperti di ketahui nama belakang saya adalah Hariyanto, bukan Uno. Jadi, walaupun judul tulisan ini “Etika”, jangan berharap tulisan ini membahas masalah “Etika” yang canggih seperti yang sering dibahas Ibu Mien Uno.

Tulisan ini tidak akan bisa menjawab pertanyaan anda (dan juga saya) seperti: apa yang harus kita lakukan kalau kita tidak bisa menahan (maaf) kentut di saat kita sedang dimarahi oleh atasan kita yang galak dan menyebalkan?
Atau pula, tak tahu saya jawaban pertanyaan anda tentang bagaimana caranta mengorek kotoran hidung di tempat umum yang sesuai dengan Etika yang dibenarkan. Apakah lubang kiri terlebih dahulu baru lubang kanan? atau sebaliknnya? Pertanyaan-pertanyaan itu tidak akan dibahas di sini, dan saya yakin pula tidak akan dibahas di buku Etika-nya Ibu Mien Uno..

Pendek kata: saya bukan ahli etika. Walaupun tulisan ini berjudul “Etika”, bisa jadi tulisan ini sendiri menyalahi kaidah etika. Dikatakan demikian karena secara langsung atau tidak, tulisan ini telah menstimulasi imajinasi saudara-saudara sekalian tentang betapa indahnya sebuah (maaf) kentut, apabila bisa dihembuskan dihadapan atasan yang menyebalkan, di saat dia sedang marah-marah tanpa alasan.

Dalam tulisan ini Saya hanya ingin berbagi sedikit tentang “Etika” dalam konteks yang berbeda, yang pernah saya pelajari di saat saya mengikuti program magister manajemen kelas malam di sebuah Sebuah Sekolah Bisnis di Jakarta tahun 2002 lalu.
Pada saat itu kasus kejatuhan perusahaan raksasa amerika “Enron” belum lama terjadi, dan masih hangat diperbincangkan di media massa. Kejatuhan “Enron” ditenggarai selain dikarenakan tidak diterapkannya tata kelola perusahaan (Good Governance) yang baik, juga disebabkan pula “Etika Bisnis” yang tidak diindahkan. Mungkin karena alasan itulah, Sekolah tempat saya mengikuti program magister manajemen tersebut merasa perlus menempatkan satu mata kuliah khusus yang membahas “Etika bisnis.

Prinsip dasar dalam Etika bisnis adalah dalam menjalankan bisnis tidak hanya kepentingan stakeholder/ pemegang saham yang harus diperhatikan, tapi juga kepentingan “stakeholder”
(pihak-pihak lainnya yang berkaitan dengan bisnis kita) juga harus diperhatikan, jangan sampai ada pihak yang secara tidak adil dirugikan.

Saya sempat tersentak ketika dosen saya mengatakan...:
“Anda berdosa tidak hanya kepada pemilik perusahaan (stockholder), tetapi juga kepada seluruh pelanggan perusahaan anda (stakeholder), apabila anda tidak bisa menjalankan bisnis dengan effisien. Karena ketidak efisien an anda tidak hanya akan mengurangi keuntungan perusahaan, tapi juga membuat pelanggan anda harus membeli produk perusahaan anda dengan harga yang lebih mahal”

Pernyataan ini kelihatan-nya sederhana. Tapi bagi saya, pernyataan ini telah membuka cakrawala berpikir saya untuk melihat suatu kejadian dengan sudut pandang yang jauh lebih lebih luas.

....Saya sangat merasa bersyukur, saya tidak pernah bekerja di sebuah perushaan BUMN yang mendapatkan hak monopoli untuk memberikan layanan barang atau jasa pada seluruh rakyat Indonesia . Kalau saja saya bekerja di PLN misalnya , dan saya bekerja dengan tidak effisien, maka dosa saya tidak hanya kepada atasan Saya (yang pernah saya-maaf- kentuti itu) saja, tetapi juga kepada seluruh rakyat Indonesia yang “terpaksa” membeli listrik dengan harga yang mahal akibat ketidakeffisienan saya (dan mungkin juga pegawai lainnya) dalam bekerja.

Sayangnya, kaidah etika seperti ini tidak banyak diindahkan oleh banyak pemimpin dan tokoh di negara kita.

Banyak pejabat negara yang merasa tidak berdosa, suci dan bersih, ketika menerima pemberian amplop “sukarela” dari pengusaha pelaksana projek pemerintah, apabila pejabat itu merasa tidak pernah memintanya.
“Ya diterima saja.. toh pemberian uang tersebut tidak pernah diminta, dan pemberian itu tidak mempengaruhi pengambilan keputusan saya” mungkin begitu yang ada di benak pejabt tersebut.

Sekilas memang terlihat tidak ada masalah , karena toh pejabat tersebut sama sekali tidak mencuri uang dari kas negara. Apa salahnya menerima uang dari pengusaha yang ingin mempererat tari silaturahmi dengan membagi sedikit keuntungan yang telah diperolehnya?
Tetap aja salah.
Kalau kita lihat lihat lebih luas, praktek seperti ini akan merugikan negara/ rakyat Indonesia juga. Dalam merencakan aggaran projek, si pengusaha tadi kemungkinan besar telah mengalokasikan uang yang diberikan kepada pejabat tadi dalam anggaran projek. Akibatnya projek pembangunan yang dikucurkan dari hasil pajak rakyat Indonesia akan menjadi lebih mahal dari yang seharusnya.
Jadi tetap saja, secara tidak langsung, pejabat tersebut dapat dikatakan telah mencuri uang negara/rakyat Indonesia juga.

Sebenarnya akan menarik sekali apabila kita membahas perilaku tidak etis lainnya yang dilakukan anggota DPR periode lalu. Minta naik gaji-minta dibeliin laptop- berpergian ke luar negeri dan sebaginya. Tapi karena sekarang lagi bulan puasa, sebaiknya saya hindari saja kegiatan yang cenderung mempergunjingkan orang lain. Kita bahas “etika” dalam hal-hal yang sifatnya umum saja ya...

Prinsip etika seharusnya diterapkan di mana saja. Termasuk dalam berkegiatan di dunia maya. Kita seharusnya selalu berpikir adakah pihak yang secara tidak adil dirugikan dari apa yang kita lakukan di dunia maya. Untuk hal-hal seperti : menjiplak tulisan blogger adalah pelanggaran etika yang sangat jelas, yang sudah barang tentu penggiat dunia maya akan sepakat untuk mengutuknya.
Nah yang agak susah, yang masuk wilayah abu-abu, agak sedikit sulit untuk menentukan apakah tindakan tersebut telah menyalahi etika atau tidak, misalnya:

1.Meneruskan (forward) seutuhnya tulisan suatu blog yang bukan milik si pengirim dengan menyertakan tautan (link) dan menyebutkan pengarangnya ke milis-milis yang diikuti si pengirim, tanpa persetujuan si pemilik blog.

Apakah tindakan seperti ini bisa dikatagorikan sebagai perilaku yang tidak etis?
Saya yakin akan ada dua pendapat dalam menjawab pertanyaan ini,

Kelompok yang pro akan menjawab:
Ya nggak masalah dong.. toh link/ tautan ke situs aslinya sudah diikutkan dan “kredit” atas tulisan itu akan jatuh ke pengarang aslinya karena sudah disebutkan oleh yang mengirimkan tulisan tersebut ke milis-milis atau ke forum-forum. Lagipula, blog-nya di pasang di media tak berbayar yang semua orang bisa meng-akses-nya. Analogi-nya penerbit selebaran / koran/ brosur yang disebarkan secara gratis tentunya akan senang jika ada yang mau bersusah-susah meng-copy dan membantu menyebarkannya lebih luas lagi.

Kelompok yang kontra akan menjawab:
Nggak Etis. Blog adalah juga sebuah karya cipta intelektual, Seharusnya minta ijin dahulu kepada si pemilik blog sebelum meneruskan tulisan itu seutuhnya ke pihak-pihak lain.

Pendapat saya:
Saya akan kembali mengacu pada prinsip etika bisnis yang sudah saya kemukakan sebelumnya, apakah akan ada pihak yan secara tidak adil dirugikan dengan tindakan ini?
Jawabannya : ada.
Pada Umumnya blogger akan senang apabila situs nya mendapat rating yang tinggi. Apabila tulisan itu di salin seutuhnya dan disebarkan kemilis-milis, ada kemungkinan pembaca membaca tulisan hanya di milis-milis dan forum-forum di mana tulisan tersebut disebarkan , bukan di situs blogger yang menjadi sumber tulisan tersebut. Pada akhirnya tindakan itu akan mempengaruhi tingkat kunjungan pembaca ke situs penulis tulisan tersebut.

Kalaupun Anda merasa ada tulisan yang sangat bagus yang sepatutnya disebarkan kepada khalayak ramai, akan lebih baik jika yang disebarkan adalah link/tautan situs dimana tulisan itu aslinya berada, disertai dengan sedikit kata pengantar dari Anda.
Tapi, biasanya kalau cuma mengirimkan link/tautan akan ada anggota milis atau forum yang nge-dumel, “kenapa sih nggak di copy-paste tulisannya sekalian di sini, kok cuma link nya doang?”
Kalau ada yang bertanya begitu, bilang saja, tindakan itu tidak sesuai dengn EYD.. eh .. EBYD (Etika Blogging Yang sedang Disempurnakan)

2.Bertanya / minta ijin pada blogger lain : Apakah boleh menampilkan tulisan blogger tersebut di blog sang penanya?
Ini baru bertanya/minta ijin ya, belum menampilkan.. apakah etis?

Mungkin akan banyak yang menjawab:
Ya sah- sah aja. Masak bertanya aja nggak boleh?

Pendapat Saya:
Kalau Saya, sebelum bertanya, saya amati dulu situs dimana tulisan itu pertama kali diterbitkan. Kalau di situs tersebut tidak terdapat ruang-ruang iklan/komersial, (seperti halnya blog saya), mungkin memang tidak ada salahnya untuk bertanya/minta ijin menampilkan tulisan blog tersebut di blog sang penanya. Siapa tahu blogger tersebut memang seorang penyebar kebaikan yang sama sekali tidak keberatan tulisannya disebar luaskan. Bahkan mungkin dia akan berterima kasih karenanya.
Sebaliknya, jika situs dimana tulisan itu pertama kali diterbitkan terdapat banyak ruang iklan, saya pikir adalah hal yang tidak etis untuk bertanya “Apakah boleh menampilkan tulsian blogger itu sepenuhnya di blog kita. Analoginya itu seperti kita sedang mendatangi toko buku yang dimilik si pengarang dan bertanya pada sang pengarang: Boleh nggak bukunya saya kopi gratis dan nanti akan saya jual di toko buku saya? Tidak etis bukan?


Sebenarnya, masih banyak yang bisa dibahas dalam tulisan ini. Tapi sekarang sudah hampir jam 7 pagi waktu Singapura. Saya harus siap-siap bekerja, jadi saya akhiri saja tulisan ini.

Salam
Mahendra Hariyanto

Friday, September 11, 2009

Every Nation Needs Enemy to Fight on

Menyerah Karena Jalan Buntu. Begitulah kalau namanya diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia
Betul , aku tidak mengada-ada "Surrender Buntu” nama lengkap lelaki asal India ini.
Surrender artinya menyerah.. buntu.. ya.. buntu - dead end. Memang begitulah arti nama lelaki legam asal India ini yang pernah menjadi bekas kolegaku.

Kukatakan “bekas kolega” ya karena memang pak Buntu ini tidak lagi bekerja di tempat yang sama dengan ku. Dia sudah mengundurkan diri dari tempat ku bekerja beberapa waktu yang lalu. Tidak begitu jelas apa alasannya . Mudah-mudahan bukan dikarenakan dia sudah “menyerah karena menemukan jalan buntu.”

Bekerja di bidang IT membuat aku banyak mengenal profesioanl IT asal India. Pak Buntu ini adalah salah satunya . Ada beberapa kolega asal India lainnya yang aku berharap tidak akan pernah bekerja dalam satu tim dengan mereka untuk mengerjakan projek IT di Indonesia. Bukan apa-apa, takutnya bisa menimbulkan fitnah.

Coba bayangkan, apa yang orang akan pikir kalau mereka mendengar aku memanggil seorang lelaki india legam berkumis tebal dengan pangilan ” Manis …manis”.
Orang akan berpikir aku adalah lelaki penyuka sesama jenis yang memanggil pacarnya dengan panggilan Sayang “Manis..”.
Padahal, tidak begitu. Aku memanggilnya dengan panggilan yang terdengar seperti kata “Manis..” karena memang begitulah namanya : “Manesh Gupta”

Atau bayangkan jika di dalam sebuah Mall di Indonesia dari kejauhan aku berteriak memanggil Pak Buntu ini dengan berseru:
“Surrender…. Buntu!!!”
Orang akan berpikir aku adalah seorang petugas Interpol keselip lidah yang sedang memaksa penjahat asal India untuk menyerah saja/ Surrender , karena dia sedang berjalan menuju toilet yang terletak di “gang Buntu”. Kasihan dia, bisa serta merta digebukin massa karenanya.

Atau orang akan salah mengira bahwa aku adalah seorang kaya raya tralala hahaha.. ketika aku memanggil seorang expatriat asal India dengan panggilan “Babu”, seperti:
“Babu.. Over here.!!!”
“Gile, Babu -nya aja di-import dari India.. pasti kaya banget nih orang..” mungkin begitu yang orang-orang pikir..
Padahak nggak begitu.. dipanggil Babu karena, memang begitulah nama Indianya “Sri Babu…” yang kalau diartikan ke bahasa indonesia bisa diartikan sebagai “Dewa-nya Babu”..
Begitulah.

Kembali lagi ke judul tulisan ini.. “
“Every nation needs an enemy to fight on..”

Judul tulisan ini sebenarnya terinspirasi dari ucapan pak Buntu, ketika pada suatu hari kami tengah berdiskusi mengenai faktor penentu apa yang harus dimiliki sebuah bangsa untuk menjadi bangsa yang besar.
Diskusi ini terlontar tak sengaja sewaktu aku bersama pak buntu tengah dalam perjalanan bisnis ke Seoul korea Selatan akhir tahun lalu.

Dalam perjalan pulang menuju hotel tempat kami menginap, aku termangu menatap gedung-gedung tinggi di tengah kota metropolitan Seoul yang banyak dihiasi pernak-pernik lampu digital berwarna-warni.
Bukan pernak-pernik lampu digital yang membuat ku termangu, tapi pertanyaan yang sedang berkecamuk dibenakku membuatku diam seribu basa.

Apa yang dimiliki Korsel sehingga bisa semaju ini?
Ketika perang Korea usai tahun 1950-an Korsel adalah salah satu Negara termiskin di Asia. Pembangunan Ekonomi dan demokrasi di korea secara efektif baru dimulai tahun 1960-an. Kurang dari 50 tahun kemudian, Korea Selatan telah menjadi salah satu Negara terkaya di Asia.

Ada kemiripan antara sejarah ekonomi Korea Selatan dan Indonesia.
Pembangunan ekonomi Indonesia dan Korea Selatan pada dasarnya sama-sama dimulai sekitar tahun 1960-an. Di Indonesia pembangunan ekonomi berkesinambunagn ditandai dengan mulainya orde Baru yang diawali dengan mahasiswa yang mendorong akhirnya “orde lama” di bawah pemerintahan presiden pertama kita Soekarno.
Di Korea selatan , pembangunan ekonomi berkesinambunagn juga ditandai dengan revolusi mahasiswa bulan April 1960 yang mengakhiri pemerintahan otokrasi presiden pertama mereka Syngman Rhee .

Jadi, Indonesia dan Korea Selatan sebenarnya bertumpu pada garis start yang sama. Dan fakta yang cukup menyedihakan menunjukan bahwa 5 dekade kemudian Indonesia jauh tertinggal dari Korea Selatan,

Mengapa bisa begitu?
Apa yang dimiliki Korsel yang tidak dimiliki Indonesia?

“Enemy.”
“Tradional Enemy.. is something that Indonesia does not have…”

(”Musuh.. Musuh Sejati…. itu yang tidak dimiliki Indonesia)
Pak Buntu menjawab pertanyaanku dengan mantap..

Menurut Pak Buntu, semua bangsa besar di dunia ini dibesarkan oleh musuhnya.Dengan mempunyai musuh bersama, seluruh potensi bangsa akan mudah dipersatukan untuk menaklukan, mengalahkan dan mengungguli musuh bersama tersebut.Fakta sejarah menunjukan bangsa-bangsa besar di dunia ini memiliki “Musuh Sejati”

Bangsa Perancis adalah musuh sejati bangsa Inggris. Kedua negara ini saling bersaing sejak ratusan tahun yang lalu, dan sekarang mereka menjadi bangsa yang di segani di dunia.

Rusia/ Uni soviet adalah musuh sejati Amerika sejak usainya perang dingin. Persaingan dengan Rusia membuat bangsa Amerika bekerja keras untuk menjadi lebih unggul dibandingkan bangsa Rusia. Pendaratan Neil Amstrong di bulan adalah salah satu tonggak pencapaian bangsa Amerika yang dipicu oleh persaingan dengan musuh sejatinya.. bangsa Rusia.

Pakistan adalah musuh sejati India.

Begitupun Jepang, adalah musuh sejati China dan juga Korea.
Korea pernah di Jajah jepang selama 35 tahun, dari periode 1910 - 1945. Penjajahan yang cukup panjang, menyakitkan dan meninggalkan luka mendalam bagi bangsa Korea. Tak heran sampai saat ini pun orang Korea pada umumnya tidak menyukai orang Jepang.

Untung-nya, setiap anak bangsa Korea dapat mengelola “kebencian” mereka terhadap musuh mereka secara positf. Kebencian itu tidak diartikulasikan dengan tindakan anarkis, tetapi kebencian itu dikelola sedemikian rupa sehingga dapat dialihkan menjadi energy yang besar untuk bekerja keras , menyatukan daya upaya seluruh bangsa untuk mengejar ketertinggalan mereka terhadap musuh sejati mereka: bangsa Jepang. Hasilnya, kurang dari empat dekade setelah perang Korea Berakhir.. Korea Selatan telah mampu merubah dirinya dari salah satu negara termiskin menjadi salah satu negara terkaya di asia .

Menarik juga teori Pak Buntu ini, mungkin ada benarnya juga.
Berbeda dengan Korea Selatan, bangsa Indonesia adalah bangsa yang baik hati, pemaaf dan tidak sombong. Sehingga sulit baginya untuk mempunyai musuh sejati.

Ribut- ribut kasus “tari Pendet” yang di tampilkan dalam iklan Pariwisata Malaysia baru baru ini membuatku teringat kembali akan diskusiku dengan Pak Buntu seperti yang telah kupaparkan di atas.
Kasus ini telah membuat rakyat Indonesia marah. Sangat Marah. Banyak ku menerima ajakan untuk bergabung dalam kelompok “Anti Malaysia” di dunia maya-yang sampai saat ini aku belum juga mengikutinya .

Yang membahagiakan, undangan ini datang dari teman-temanku yang dulunya kutahu termasuk orang-orang yang tidak terlalu ambil pusing terhadap sepak terjang pelestarian budaya Indonesia. Namun, begitu budaya asli negara nya di klaim negara lain, jiwa nasionalisme mereka seperti terbakar menggelora.

Bagiku, kejadian ini bagaikan “pucuk dicinta ulam tiba”. Bangsa Indonesia yang telah lama mengalami “krisis semangat berkompetisi” akibat tiadanya musuh sejati, akhirnya mendapatkan kandidat yang benar-benar bisa diandalkan untuk dinobatkan sebagai “musuh bersama”.. Malaysia.
Malaysia dapat dikatakan musuh yang benar-benar bisa diandalkan karena beberapa tahun belakangan ini baik pemerintah maupun warga nya secara langsung atau tidak, sengaja atau tidak, kerap kali melakukan tindakan-tindakan provokasi yang melukai bangsa Indonesia.

Perlakuan terhadap TKI- Kasus Ambalat - klaim lagu Rasa Sayange - Tari Pendet - pelaku Teroris.. dan berbagai kejadian lainnya secara berkesinambungan mengusik kesabaran bangsa Indonesia yang pada dasarnya baik hati, tidak sombong dan pemaaf ini.

Marilah kita berharap agar di saat-saat kedepan Malaysia tetap melakukan tindakan provokasi nya untuk mengukuhkan dirinya sebagai “musuh sejati” bangsa Indionesia. Musuh sejati yang mampu menjadi “kompor” memanas-manasi kita bangsa Indonesa untuk:

  • Bekerja lebih keras lagi agar kita mampu menyaingi kemakmuran Malaysia

  • Belajar lebih keras lagi agar teknologi kita lebih maju dar negeri jiran Malaysia

  • Hidup lebih hemat agar kita bisa menabung untuk menyediakan pendidikan yang seting-tingginya bagi anak kita - generasi penerus yang kita harapkan mampu membawa Indonesia mengungguli kemakmuran Malaysia di masa yang akan datang

  • Rajin bayar pajak, karena kita tahu sebagian pajak yang kita bayarkan akan digunakan untuk memperbaharui peralatan tempur tentara kita menghadapi musuh kita di “Ambalat”.

  • Bagi yang bekerja di Luar negeri: sumbangkan devisa ke dalam negeri sebanyak-banyaknya agar dapat digunakan bagi kemajuan pembangunan Indonesia mengejar ketertinggalan kita dari “musuh sejati” kita.

  • dan sebagainya…


Namun demikian, perlu ditekankan di sini bahwa adalah penting untuk menghadapi musuh kita itu secara cerdas dan beradab. Tindakan anarkis harus dihindari. Tindakan seperti sweeping terhadap warga Negara Malaysia atau pengusiran pelajar Malaysia yang tengah belajar di Indonesia, akan melemahkan image bangsa Indonesia di mata dunia, yang akhirnya justru menguntungkan musuh kita bersama itu: Malaysia.

Bisakah kita mengejar ketinggalan kita dari bangsa Malaysia yang saat ini pendapatan per kapitanya 4 kali lebih kaya dari bangsa Indonesia ?

Tentu bisa!!! Sangat bisa!!
Contohlah Korea Selatan, dalam 4 dekade mereka mampu merubah dirinya dari negara termiskin di Asia menjadi salah satu negara terkaya di Asia menyaingi musuh sejati mereka bangsa Jepang..
Kita pun harus bisa!!!

Dalam banyak hal kita jauh lebih unggul dari Malaysia, diantaranya:
Dari segi budaya, jelas sekali kita lebih kaya. Dalam Kasus tari Pendet kemarin, kita jelas-jelas telah menjadi pemenang. Permohonan maaf dari jaringan telivisi Internasional Discovery Channel atas penayangan tari pendet dalam iklan pariwisata Malaysia, merupakan pengakuan Internasional atas “pencurian” budaya kita yang telah dilakukan Malaysia.
Setelah kejadian ini, bukan tidak mungkin persepsi dunia international terhadap Malaysia berubah, dari “Malaysia truly Asia“ menjadi “Malaysia true lies Asia” .

Dari segi ekonomi, walaupun pendapatan per kapita Malaysia 4 kali lebih tinggi dari Indonesia, tapi jika dilihat dari besaran GDP (PDB), pendapatan nasional Indonesia Jauh lebih besar dari Malaysia. Dari segi pendapatan nasional (PDB) Indonesia menempati urutan ke 19 dunia , sementara Malaysia menempati urutan ke 39 .
Dari segi pertumbuhan ekonomi pun Indonesia mengungguli Malaysia.
Di tahun 2009, di saat pertumbuhan Malaysia minus 3.9 % persen di kuartal kedua akibat pengaruh krisis ekonomi global, Indonesia justru mampu membukukan pertumbuhan ekonomi positif sebesar 3.99% .

Keunggulan lainnya, Indonesia bersanding dengan Korea Selatan dan Mexico diramalkan akan segera bergabung ke dalam kelompok negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat dunia yang saat ini didominasi negara-negara dalam kelompok BRIC (Brazil, Rusia , India dan China). Sementara Malaysia sama sekali tidak diperhitungkan untuk bergabung dalam kelompok negara-negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di dunia tersebut.

Jadi saudara-saudaraku sebangsa dan setanah air. Mari kita bersama-sama busungkan dada, tegakkan kepala, tatap tajam mata musuh kita dan janjikan pada mereka: 15 tahun dari hari ini kemakmuran bangsa kami akan mengungguli bangsa kalian !!!.

Merdeka!!!!
Mahendra Hariyanto

Tuesday, August 25, 2009

Pak Tan

Sebenernya sih.. belum tentu namanya Pak tan.. aku tak ingat pasti siapa namanya..
Tapi ntah kenapa.. di kepalaku ini.. selalu menganngap nama “Pak Tan” adalah nama yang cocok untuk disandingkan pada setiap lelaki warga Negara Singapura dari etnis China..
Nggak tahu kenapa
Mungkin aku terlalu banyak bertemu dan berteman dengan warga Singapura dari Marga “Tan”...

Begitulah..

Sama seperti hal nya dengan Bapak dan ibu “Kim”. Adalah nama yang akan serta merta terucap atau terpikirkan di dalam benakku apabila aku disuruh menebak nama sepasang wajah asing yang dari penampakan nya keliatan sekali berasal dari Korea. Mengapa Kim?
Kalau yang ini lebih jelas kenapa. Negeri Korea mengingatkanku pada masakan korea yang selalu disandingkan dengan bumbu unik asla korea .. Kim-Chi. Jadi "Kim" bagiku adalah merupakan asosiasi yang tepat yang ditujukan pada orang Korea.
Atau mungkin karena juga waktu aku sempat bekerja beberapa bulan di Korea, aku banyak bertemu rekan kerja asal korea dari Marga Kim.
Belum tahu ya?
Jelek-jelek gini aku pernah juga kerja di Korea untuk beberapa bulan lamanya.
Sedikit-sedikit tahu bahasa Korea, misalnya
Salam : Anjang Aseo
Terima kasih : Kamsa Ham-ni-da
Makanan Enak : Kim-chi Gu Jang Lee da (dbaca: Kimchi Goyang Lidah)

Atau... “Yamamoto” , adalah asosiasi yang diberkan otakku untuk menamai sosok lelaki berkebangsaan Jepang yang tak kuthau pasti siapa namanya. Ndak tahu kenapa begitu.. mungkin nama Yamamoto mengingatkan ku pada merek dagang asal Jepang yang terkenal di Indonesia: Yamaha... dan Ajinomoto.

Kembali lagi dengan judul tulisan ini “Pak Tan” ,
Ada apa denggan dia??

Pak Tan dalam tulisan ini adalah seorang supir taxi di Singapura, yang pada suatu ketika kupernah ..menaiki taxi-nya...
Berbeda dengan supir taxi di Singapura pada umumnya: Ada yang unik dengan Pak Tan

Sebelumnya, mungkin perlu kuceritakan sedikit bahwa tahun lalu dan tahun sebelumnya, di saat aku masih bekerja di sebuah perusahaan konsultan, aku mendapatkan fasilitas transportasi yang cukup baik dari.
Aku diperbolehkan pergi dan pulang dari rumah ke tempat kerja dengan menggunakan taxi setiap harinya yang biayanya ditanggung sepenuhnya oleh kantor tempatku bekerja.
Untuk ukuran Singapura, fasilitas semacam ini bisa dibilang cukup istimewa, karena layanan jasa taxi di sini terbilang tidaklah murah.

Mendapatkan fasilitas semacam ini, cukup membuat cukup bangga tentunya. Kira-kira sama seperti anda-anda dulu yang termasuk kelompok pertama pemilik gadget “blackberry”, anda akan bangga dengan kalimat penutup “sent from blackberry” di bagian akhir e-mail anda yang anda kirim ke milis-milis yang anda ikuti.
Serupa dengan itu, sempat terlintas dibenakku untuk membuat tulisan dibagian belakang kemeja kerjaku dengan tulisan “sent to office by black/yellow/red taxi... “.

Agaknya “pikiran kotor” untuk membuat tulisan “sent to office by black/yellow/red taxi... “ di kemeja kerjaku itu, merupakan indikasi tanda-tanda kebanggan ku itu mulai berlibihan.
Makanya sebelum bangganya berubah jadi sombong, agaknya Yang Maha Kuasa mencabut kembali “rejeki” yang belum lagi lama kunikmati itu.

Begitulah,
Perusahaan tempatku bekerja itu terkena dampak Krisis ekonomi dunia yang tengah berlangsung saat-saat ini. Membuatku merasa khawatir akan masa depanku bekerja di perusahaan itu.
Didorong oleh “perasaan tidak aman” pada kondisi perusahaanku saat itu, maka pindahlah aku ke perusahaan lainnya, yang di satu sisi tidak memberikan fasilitas istimewa seperti yang kudapat sebelumnya, namun di sisi lain perusahaan ini mampu memberikan rasa aman, karena tampaknya tidak terlalu banyak terpengaruh dari krisis Ekonomi dunia yang sedang Melanda.

Dengan demikian teman, roda kehidupan memang tidaklah selalu di atas; setelah satu setengah tahun bagaikan berada di atas roda keihudapan menikmati indahnya jalan yang berkelok kelok (yang dipilih pak Supir Taxi), begitu pindah kerja aku, harus kembali lagi aku ke jalan yang “lurus” , yaitu jalan yang dilalui oleh kereta MRT.. berdiri... dan berdesak-desakan dengan ratusan penumpang lainnya.

Tidak mudah. Setelah hampir 1.5 tahun terbiasa berangkat kerja lebih siang, dan mendapati taxi telah menunggu dengan manisnya di lobby apartement siap mengantarku ke tempat kerja, setelah pindah kerja ,aku harus kembali membiasakan diri lagi tergopoh-gopoh di pagi hari menuju setation MRT berdiri,berdesak-desakan dan harus berganti kereta , berganti bis, baru akhirnya bisa sampai ke tempat kerja.

Awalnya terasa berat memang, tapi begitu aku teringat kembali kisah Pak Tan, beban berat itu terasa menjadi ringan. Kujalani dan kusyukuri saja apa-apa yang telah di berikan-Nya kepadaku.

Ada Apa dengan “Pak Tan”?
Seperti yang telah kusebutkan sebelumnya, Pak Tan adalah salah satu pengemudi taksi yang pernah menjemputku dan mengantrarku dari apartement tempatku tinggalku menuju ke kantor tempat kerjaku.
Dilihat dari ciri-cirinya, kita akan tahu bahwa Pak Tan berasal dari Etnis China. Kulitnya lebih “terang” dibandingkan kulit sawo matang orang Melayu pada umumnya.
Pak Tan bertubuh gempal, usianya belumlah tua, sekitar pertengahan 40 an, sorot air mukanya bagaikan air situ di puncak gunung , tenang dan menyejukkan.

“Good Morning Sir” Pak Tan menyapa
“Hi Good Morning” Jawabku
“Where are you going .. Sir?” Pak Tan bertanya tujuan ku pergi dengan cara yang sopan sekali.. tidak semua sopir taksi di Singapore menyapa kita dengan sapaan sopan “Sir” .
“IBP- Jurong East please” Jawabku singkat..

Bukan cara bertanyanya yang sopan yang menarik perhatianku untuk lebih banyak berbincang-bincang dengan “Pak Tan” pagi itu. Tapi, tutup kepala yang dipakainya yang membuatku ingin tahu lebih jauh latar belakang Pak Tan ini.
Kepala Pak Tan ditutupi oleh “Kupluk Haji”, sama seperti "kupluk haji" yang digunakan tenangga kita yang baru saja pulang Naik Haji.

“Are you Muslim Sir?”
Bapak beragama Islam? Aku berbalik bertanya dengan sopan penuh ingin tahu. Aku tergelitik untuk bertanya, karena umat muslim di Singapura adalah minoritas yang pemeluknya berasal dari etnis melayu atau India/Pakistan€. Jarang sekali pemeluk islam di Singapura berasal dari etnis china.

“Yes I'm ” jawabnya.
“Assalamualakum” ucapku sepontan
“Waailaiku salam” Jawabnya lagi.

Selanjutnya.. seperti wartawan infotainment yang tengah memburu mangsa, aku memberondong “Pak Tan” dengan bayak pertanyaan yang sebenarnya merupakan ranah kehidupan pribadi nya . seperti:
“Apakah dia memang muslim sejak lahir”
“Kalau tidak, Mengapa dia memimilh memeluk agama Islam”
“Apakah Karena Pernikahan”
“Ataukah memang ada alasan lainnya”

Untungnya Pak Tan Cukup Sabar menanggapi pertanyaanku itu.

Sembari mengendalikan laju Hyundai Sonata yang dikemudikannya, Pak Tan bercerita latar belakangnya mengapa dia memeluk agama Islam.

Beberapa tahun sebelumnya, disaat Krisis Ekonomi Melanda Asia, Pak Tan bekerja di sbeuah Bank yang ikut dililit masalah yang cukup besar. Bank tempat Pak Tan bekerja akhirnya di tutup dan Pak Tan pun kehilangan pekerjaannnya. Pak Tan adalah satu dari lima orang terakhir yang harus meninggalkan bank tersebut.

Kalimat terakhir ini , jika dicermati , akan membuat kita tahu bahwa Pak Tan sebenernya meduduki posisi yang sangat Tinggi di Bank tersebut. Kalau ada Bank yang dilikiuidasi. Maka orang-orang terakhir yang meninggalkan Bank tersebut tentunya adalah orang-orang penting: Dewan Direksi , dewan Komisaris atau senior manager. Mereka adalah orang terakhir yang harus menyelesaikan kewajiban-kewajiban terkahir yang harus diselesaikan oleh bank tersebut.

Mendapati kenyataan kehilangan pekerjaan dan status yang di miliki”ini membuat pak tan merasa khawatir dant tertekan. Di saat inilah Pak Tan diperkenalkan dengan ajaran Islam.
Diperkenalkan pada ajaran Islam di saat sedang mengalami kegalauan seperti itu.. baginya bagaikan menemukan telaga sejuk di saat tengah tersesat di padang gurun”.

Ajaran Islam , membuat nya dapat berserah diri pada-Nya. Penyarahan diri yang dapat mengusir rasa takut akan kehilangan status ataupun kekayaan materi yang selama ini telah mengekang nya bertahun-tahun sebelumnya.

Dan oleh karena itupulah, “Pak Tan” sama sekali tidak merasa malu ataupun rendah diri setelah sebelumnya menjadi bankir beralih pekerjaan menjadi Supir Taxi.. toh itu adalah pekerjaan yang halal.

Aku takjub mendengar cerita Pak Tan. Kembali tergelitik untuk bertanya padanya , dengan kondisi perekonomian yang semakin membaik saat itu, tidakkah dia terpikir untuk kembali menjalani profesinya yang dahulu sebagai Bankir?

Pak Tan tersenyum, lalu dia menjawab:
“You will not believe what I'm going to say: I feel much happier today compared to those days.. “
Jawaban Pak Tan membuat keningku berkerut. Bagaimana mungkin Pak Tan bisa merasa lebih bahagia menjadi supir taxi dibandingkan menjadi seorang bankir..

Pak Tan lalu memaparkan alasannya: semenjak tidak lagi menjadi petinggi bank dan menjadi sopir taxi, dia merasa lebih punya banyak waktu untuk dirinya sendiri, untuk beribadah, memupuk kekayaan sepiritual bagi dirinya. Setiap datang waktu Sholat, Pak Tan, mencari masjid terdekat dan dengan leluasa melakukan sholat dengan khusuk.
Hal seperti ini dirasakan sulit akan dilaksanakan apibila dia kembali bekerja seperti dulu sebagai seorang bankir. Agenda kereja sehari-hari sangat padat. Pertemuan business datang bertubi-tubi. Tuntutan kerja membuat dia harus selalu pulang malam.. Di akhir Minggu pun pikiran Pak Tan tak lepas dari permasalahan pekerjaan yang harus segera diselesaikan.
Tak banyak waktu yang tersisia tuk bersujud , bersyukur dan menyerahkan segalnya Kepadanya.

“....back then.. I was materially rich, but, spiritually poor. Today .. it is the other way arround I may be materially poorer but I'm spiritually richer ...and it make me happier .”
(Dulu saya kaya (secara material) tetapi miskin spiritual.. Saat ini kebalikannya.. sayaa emamg lebih miskin secara material tapi kaya secara spiritual .. keadaa ini membuat saya lebih bahagia).

Kira-kira begitulah yang diunggkapkan pak tan menutup penjelasan-nya.

Pagi itu adalah pagi yang istimewa. Bukan saja karena aku mendapati sedang disupiri oleh seorang mantan pejabat sebuah Bank. Terlebih lagi , cerita pak Tan membuat ku sadar bahwa
Kekayaan material mungkin bisa membuat kita bahagia...
Kekayaan spiritual sudah pasti akan membuat kita jauh lebih bahagia.

Singapura, 25 Agustus 2009.
Selamat menunaikan ibadah puasa 1430 Hijriah

Mahendra Hariyanto
http://mahendrahariyanto.blogspot.com/

Sunday, July 05, 2009

Roda Kehidupan


Roda kehidupan terus berputar .
Tidak selalu di bawah, atau di tengah..
Tak pernah pula berhenti di satu titik disaat napas kita masih berhembus.
Terkadang berputar searah jarum jam,
Tak jarang pula berputar sebaliknya
.
*
Pada dasarnya setiap manusia akan pernah mengalami berada di atas roda kehidupan dalam hidupnya. Itu adalah suatu hal yang pasti.


Apa Iya?
Kalau memang demikian halnya mengapa banyak orang miskin tidak pernah jadi kaya dan orang kaya banyak yang tak pernah menjadi Miskin?


Yah.. , hal itu dikarenakan, besarnya roda kehidupan manusia tidaklah sama antara manusia satu dengan lainnya. Orang yang sangat kaya mungkin memiliki roda kehidupan dengan jari-jari sangat besar. Tak heran, dikala roda kehidupan mereka (orang-orang kaya itu) sedang bergerak menurun pun mereka masih jauh lebih kaya raya tralala dibanding orang-orang pada umumnya.
Hal ini juga yang menjelaskan kenapa banyak orang yang dikatagorikan „miskin“ di negara maju , pada kenyataannya hidupnya masih lebih sejahtera (secara materia) di bandingkan kita-kita di Indonesia pada umumnya


Tapi teman, tak ada alasan kita bercemburu ria pada mereka yang lebih kaya dari kita..
Dalam mengapai kebahagiaan tantangan yang sesungguhnya di dunia ini bukanlah “How high you can fly” - seberapa tinggi kekayaan yang harus anda kumpulkan untuk bisa meraih kebahagian , tapi sebaliknya tantangan tantangan sesungguhnya adalah “How low can you go” – bagaimana kita bisa tetap meraih kebahagiaan dengan taraf kehidupan yang sesedrhana mungkin.

*


Kita hidup di suatu jaman dimana tikus (mouse) tidak lagi berbunyi cit-- cit-- cit, ketika buku catatan (notebook) bisa digunakan untk menjelajahi dunia (maya); ketika teman , kerabat , rekan kerja dan bisnis bisa tersapa hanya dengan menekan biji-biji buah arbei hitam (blackberry). Kita hidup di era informasi.

Dunia semakin terbuka, informasi semakin berlimpah ruah. Godaan untuk berpartisipasi dalam kompetisi konsumerisme semakin memuncak.
Kita tidak lagi bisa dibahgiakan “hanya” dengan ketersediaa makanan yang bisa kita santap setiap hari, tempat tinggal yang bisa kita tempati ataupun setumpuk pakaian yang bisa kita pakai berganti-ganti.

Kebahagiaan kita terusik dengan berlimpahnya informasi konsumerisme yang kita terima. Gempuran iklan barang-barang konsumtif melambungkan keinginan kita untuk memilikinya. Keininginan yang membuat kita tak bahagia dikala kita tak kuasa menggapainya.
Gempuran informasi atas “keberhasilan” teman ataupun kolega yang terpampang di situs jejaring sosial (yang belum dapat kita raih) secara tak sadar mengusik rasa syukur kita atas apa yang telah kita terima saat ini.
**

Tahun 2006, Dunia sempat tercengang ketika mendapati “Buthan”, negara yang masih dianggap terisolasi dari hingar bingar perkembangan media teknologi informasi , menjadi salah satu dari 10 negara dengant tingkat kebahagian tertinggi di dunia.

Buthan menempati urutatan ke 8. Urutan ke 9 dan ke 10 masing-masing ditempati Brunei dan Canada. Jika dilihat dari segi materi, GNP (Gross Nastional Product) perkapita Buthan yang hanya $1400 tak sampai sepersepuluh GNP kapita yang didapat Brunei ($23,600) atau Canada ($34,000), namun dari segi Index kebahagiaan bangsa, Buthan lebih unggul dari kedua negara lainnya. Fakta ini menunjukkan dalam mencapai puncak kebahagaian - “Size does not matter”, - materi (uang) bukanlah segalanya.

Tingginya Index kebahagiaan merupakan suatu pencapaian dari kebijakan pemerintahnya. Tahun 1972 Raja Buthan Jigme Singye Wangchuck memperkenalkan konsep “Gross National Happiness” (GNH) sebagai alat ukur tingkat keberhasilan pemerintahan Buthan, menggantikan konsep “Gross National Product”.
Untuk mencapai GNH yang tinggi pemerintah Buthan menetapkan berbagai kebijakan penunjangnya. Salah satunya adalah pembatasan arus informasi konsumerisme di negara tersebut. TV baru diperkenalkan tahun 1999, itupun dengan pembatasan siaran-siaran yang bersifat “konsumerisme”. Iklan-iklan barang konsumtif tak dibiarkan merajalela menguasai tayangan di telivesi. Setali tiga uang dengan perkembangan teknologi informasi di sana. Perkembangan Internet di sana merangkak perlahan-lahan.

Dengan kebjiakan ini permerintah Buthan berhasil mengelola tingkat keinginian rakyatinya untuk memiliki barang-barang konsumtif. Jika keiningan bisa dikelola, kebahagiaan pun bisa diraih.
Hasilnya tercermin seperti terlihat studi kebahagiaan dunia yang dilakukan oleh lembaga terkemuka dunia : A University of Leicester psychologist pada tahun 2006, Buthan – dengan tingkat GNP yang relatif rendah bisa menjadi salah satu bangsa terbahagia di dunia berdampingan dengan negera-negara terkaya didunia.
**

Indonesia tidaklah sama dengan Buthan. Di negara kita informasi konsumerisme menjejali kita di mana-mana, di TV, radio, koran, internet, bilboard-bilboard komersial disusun berbaris rapi di pinggir jalan.

Jika tak pandai kita membentengi diri kita dengan rasa syukur atas segala anugerahnya, gempuran informasi konsumerisme bisa mencokok hidung kita untuk melakukan tindakan-tindakan yang tidak semestinya semata-mata untuk memuaskan gejala hidup konsumerisme itu. Mungkin anda Masih ingat berita beberapa waktu lalu dua orang Jaksa wanita terjarat kasus penjualan narkoba karena didorong oleh keinginan untuk mempunyai uang tambahan untuk membeli “blackberry..”.. tragis bukan?

Kalau kita tak bisa membatasi masuknya informasi konsumerisme yang terus berupaya membangkitkan kita untuk memilikinya, selayaknya yang kita bisa kita lakukan adalah mengendalikan keinginan kita tersebut.
Bagaimana caranya? Di bawah ini adalah beberapa diantaranya

1. Bersyukur atas apa yang telah kita miliki
Sesungguhnya, kalaupun kita tengah merasa berada di bawah “roda kehidupan”, banyak hal yang bisa kita syukuri, yang bisa kita nikmati yang tak bisa dinikmati orang-orang di atas sana.
Misalnya :

  • Kalau kita terbiasa dan bisa menikmati seni belanja di pasar becek, maka sesunguhnya kita jauh beruntung dari kebanyakan orang di atas sana yang hanya bisa berbelanja di ruangan ber-AC di pasar-pasar swalayan.
  • Kalau kita terbiasa menggunakan ke-sana kemari dengan menggunakan transportasi umum, maka kita sebenarnya jauh lebih beruntung dari kebanyakan golongan menengah di Jakarta yang merasa “harus” menggunakan (tergantung pada) kendaraan pribadi atau taksi ber-AC untuk bisa ke sana kemari.


2. Hidup Sederhana.
Hidup sederhana di sini bukan berarti harus hidup susah. Hidup sederhana di sini adalah menyesuakan gaya hidup kita sesuai dengan kemampuan kita. Kalau bisa tetapkan gaya hidup Anda di bawah dari kemampuan yang sebenarnya anda miliki. Sebagai contoh : kalaupun anda mampu membeli mobil mewah dan mahal, bukan berarti anda harus membeli-nya. Kalau mobil yang lebih sederhana dan murah secara fungsional sudah dapat memenuhi kebutuhan anda kenapa anda harus mmembeli yang kebih mahal

3. Perkuat Aktivitas Spiritual
Dengan memperkuat aktitivitas spiritual, keiniginan kita untuk memiliki barang dan jasa yang bersifat duniawi akan terkikis dengan sendirinya

Demikianlah pembaca yang budiman, tak ada maksud menggurui pembaca sekalian dengan tulisan ini. Tulisan ini dibuat oleh penulis sebagai upaya penulis untuk menghadapi kencangnya pengaruh budaya konsumerisme yang sedang dirasakan penulis sendiri.

Semoga bermanfaat
Mahendra Hariyanto

Singapore, 5 July 2009

Sunday, May 31, 2009

Pam

Tak lama aku mengenal nya. Tak sampai setahun..Dulu sewaktua aku dan dia sama-sama mengambil kelas eksekutif.. beberapa tahun lalu

Bukan.. bukan kelas eksekutif kereta parahyangan Jakarta Bandung
Kelas eksekutif program magister maksudku..kelas malam selepas bekerja.

Pambudi adalah salah satu teman sekelasku..
Teman-temanku bilang aku dan Pam ada kemiripan.. seperti kaka beradik...
Tak tahu siapa yang menjdai kakak, yang jelas aku lebih pantas jadi adik...

"Selamat Pam, barusan dibilang ganteng tuh sama anak-anak"
Kataku tak tahu diri menyelemati Pam yang baru saja dibilang mirip dengan-ku..

Hari-hari selanjutnya hubungan kami pun seperti kakak beradik.
Saling mendukung saling membantu, dalam menjalani studi kami.
Tak jarang dia langsung bergegas ke depan kelas menyelamatiku yang baru saja selesai mempresentasikan tugas kuliah..
"Selamat Her, presentasinya bagus sekali..." Pam menyelamatiku.
Begitu pula sebaliknya..

Seperti yang kubilang, tak lama aku mengenalnya.. tak sampai setahun..
tapi kesan mengenainya kuingat bertahun-tahun setelahnya..

Kesan yang membuatku percaya bahwa kita tetap bisa menjadi mutiara walau terjebak dalam kotornya kubangan lumpur sekalipun.
**
Kelas eksekutif - kebanyakan diisi pekerja-pekerja kantoran.
Beragam latar belakanga pekerjaannya, pemasaran - IT - Human Resource - Produksi, pun tetap ada kesamaannya..
Mereka sama-sama bekerja di Kantor.. kantoran.

Tapi Pam berbeda, Pam tidak bekerja di kantor. Dia bekerja di kebun..
Bekerja di kebun karena dia seorang petani..
Pelaku agro bisnis... mungkin begitu nama kerennya.
Yang dilakukannyanya adalah: mencari lahan-lahan kosong yang bisa disewa karena dia tidak punya lahan, menanaminya dengan bibit unggul
dan menjual hasil panennya ke pasar-pasar swalayan kelas atas..
Kadang-kadang lumayan hasilnya, sesekali-pun merugi.
Pekerjaan yang butuh kerja keras dan keuletan..

"Serius mau menekuni agro bisnis nih Pam?"Tanyaku padanya suatu hari.. Pertanyaan penuh rasa ingin tahu, bukan basa-basi

"Wah belum tahu juga.. banyak resikonya.. dan hasilnya juga naik-turun"..
"Tapi yah... dijalani ajalah , ngisi waktu sambil cari-cari pekerjaan.." tambahnya lagi.

Jawaban ini membuatku garuk-garuk kepala dengan khusyuknya.

Yang Kutahu, Pam adalah seorang tukang insinyur teknik sipil lulusan ITB, dan juga tukang master insinyur di bidang yang sama dari sebuah universitas tekemuka di Perancis. Ngomong Perancisnya pun lancar tak terkira, suara sengaunya persis seperti orang perancis, bukan sembarangsuara sengau seperti yang disebabkan aksi mogok sekelompok upil di pangkal hidung kita..

Dengan kualifikasi pendidikan yang begitu tinggi. Pastinya, tak akan sulit baginya untuk mencari pekerjaan.. kok bisa-bisanya dia bilang begitu ;"ngisi waktu sambil cari-cari pekerjaan.."

"Cari kerjaan yang sesuai dengan hati nurani... maksudnya.." katanya menjelaskan

Tambah bingung kudibuatnya.. tambah khusuk pula ku menggaruk kepala...
Apa jadi tukang insinyur teknik sipil tidak sesuai dengan hati nuraninya? Kalau gitu kenapa cape-cape ngambil jurusan Sipil?

Selanjutnya Pam bercerita, sekembalinya dia menyelesaikan program master di Perancis, dia bekerja di instansi pemerintah: Dinas Pekerjaan Umum.
Sebuah instansi yang cukup dikenal basah..
Basah karena selalu kebanjiran proyek.

Pada suatu ketika Pam dipercaya menjadi menjadi pengawas project ..
Jabatan basah.. jabatan yang banyak di incar orang..
Di saat menjadi pengawas project itu, Pam mendapatkan tekanan berat dari atasan nya untuk meluluskan hasil kerja "kontraktor" yang menurut Pam tidak memenuhi Spesifikasi yang diinginkan.
Pam berupaya untuk bertahan menentang "tekanan berat" dari atasannya tersebut.
Tapi pada akhirnya Pam tak kuasa..
Kontraktor yang tak bisa memenuhi spesifikasi projek itupun akhirnya lolos juga..

Pengalaman ini membuat hati Pam tak tenang..
tak bisa tidur dibuatnya..

Pam berbulat hati..
Surat pengunduran diri pun dilayangkannya..
Tak peduli pada waktu itu Pam belum mendapatkan perkerjaan lainnya..
Tak peduli pula pada kenyataan bahwa Pam adalah seorang Ayah dan suami yang wajib memberikan nafkah pada keluarga..
Yang benar, adalah benar..
Yang salah harus ditinggalkan...

Keputusan "benar" yang membuat Pam harus menjalani hari-hari berat sebagai seorang "Petani" di hari-hari setelahnya..
Tak ada setitik penyesalan terpancar dari sorot mata pam di saat Pam bercerita pengalamannya..
Memang tak ada yang perlu disesali..
Yang ada adalah keputusan yang Patut dibanggakan.

Tapi pertanyaanku masih belum terjawab..Kalaupun baginya sulit bekerja secara "lurus" di instansi pemerintah, mengapa tidak bekerja di perusahaan swasta/kontraktor saja , sesuai dengan bidang keahliannya?

"Sama aja her, kerja di kontraktor swasta, sebagian besar banyak menangani projek dari pemerintah... Disuap ataupun menyuap.. sama aja dosanya..."

Betul juga.. akupun hanya bisa mengangguk.. Mengiyakan..

Percakapanku dengan "Pam" membuka wawasan baru.

Sebelumnya, aku bisa bersikap "permissive" pada para koruptor itu..
Sempat kumennganggap mereka terlanjur menjadi korup semata-mata karena terjebak dalam suatu sistem yang korup.
Suatu sistem yang siapapun masuk kedalamnya, mereka ataupun kita, akan pula menjadi korup..

"Kalau cuma di sodori 5-10 juta, sih masih gampang menolaknya... tapi kalau sudah disudori 500 jt ke atas, wah susah sekali menolaknya.."
Begitu kira kira kutipan seorang teman yang mendengar pengakuan seorang pejabat yang berkantor di bilangan senayan..

Tapi, cerita mengenai "Pam" membuatku berpendapat berbeda, betapun "korup" system yang berjalan di tempat kita bekerja.. teh botol minumannya..
Eh maksudnya.. betapun "korup" system yang berjalan di tempat kita bekerja.. kita seharusnya selalu tegar, dan tak terlaru ke dalam korupnya system tersebut, seperti yang di contohkan Pam padaku, pada kita semua..
**

Seperti yang kubilang, tak lama aku mengenalnya.. tak sampai setahun..
Di tengah semester, Pam tak lagi muncul di kelas...
Yang kudengar, Pam telah mendapatkan pekerjaan 'kantoran' lagi...
Posisinya kelihatannya cukup penting, sehingga tak sempat baginya untuk kuliah malam selepas kerja..
Pastinya, dia telah mendapatkan pekerjaan yang dicari.. yang sesuai dengan hati nuraninya..

Akh.. syukurlah..

Singapore, 31 May 2009
Mahendra Hariyanto

Saturday, May 09, 2009

War-tini

Kami memangilnya “War”.
Aku tak tahu persis siapa nama aslinya.
Istri-ku yang tahu..
Yang jelas, nama aslinya bukanlah An-war …
karena dia adalah seorang wanita..
Dan bisa di pastikan pula , bukan “War –tini”..
karena tak pernah kulihat dia bersanggul-ria seperti halnya ibu kita Kartini..

War bekerja pada kami sejak beberapa bulan berlalu..
Membantu isrtiku mengasuh anak kami yang belum lagi berusia lima tahun..
Baby sitter nama pekerjaannya,
“Suster” dipanggilnya.. ..
Dipanggil begitu karena pakainnya putih-putih
Seperti suster di rumah sakit.
Untunglah …jalannya tidak nge-sot,
Tak cocok rasanya jika dia dipanggil dengan panggilan "suster ngesot…"

War adalah seorang “single parents
Anaknya lelaki, masih kecil, tinggal di kampung bersama kakek neneknya.
Sementara War, bekerja pada kami, di kota Jakarta.. er.. pinggiran Jakarta – Pondok gede tepatnya.
Kesempatan bertemu anaknya mungkin hanya sekali, atau dua kali dalam setahun..
Cukup berat tentunya…
Bagi seorang ibu… single parent pula.

Antara Aku, Istriku dan War , terjadi hubungan simbiosis mutualisma.
Saling membutuhkan, saling melengkapi…
Melihat perjuangan aku dan istriku membesarkan anak kami yang berkebutuhan khusus
Membuat War semakin tegar,
Sekalipun jarang dia bertemu dengan anaknya di kampung,
Dia tahu tantangan hidup yang akan dijalani anaknya mungkin tak seberat tantangan hidup yang akan dihadapi anak kami yang berkebutuhan khusus

Sebaliknya,
Melihat War yang hanya bertemu anaknya setahun sekali
Membuatku malu berkeluh kesah diberi kesempatan menjenguk anak istriku setahun dua belas sekali.

Begitupun Istriku,
Melihat War, mandiri berjuang hidup membesarkan anak sendiri tanpa suami..
Membuat istriku tegar, mendapati suami yang hanya bisa pulang sebulan sekali...

Begitulah, sepeti halnya ibu kita Kartini yang menginspirasi banyak wanita di negeri ini..
War juga telah menginspirasi keluarga kami.
Makanya tulisan ini kuberi judul War-tini..
Walaupun kutahu si War bukanlah tini

Jikalau Kartini selalu diperingati harinya atas jasanya menuntut hak setara lelaki
Ntah mengapa tak ada peringatan pada Perjuangan perempuan macam War-tini ini

Bukan hak yang dituntutnya, hanya kewajiban setara lelaki yang dijalankannya…

Singapore , 9 Mei 2009
Mahendra Hariyanto